BNPT: Pemahaman Ideologi Bersifat Kontemporer

RadarKotaNews, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar menjelaskan sistem deradikalisasi yang berfokus kepada pihak-pihak tersangka, terdakwa dan terpidana dan monitor lanjutan serta koordinasi antara lembaga dan aparat menegak hukum.

"Hari ini adalah wujud kontra narasi terhadap berbagai isu berkembang, termasuk pemahaman ideologi bersifat kontemporer," ujar Boy Rafli Amar dalam Konferensi Pers di Hotel Aryaduta Jalan Prajurit KKO Usman dan Harun, Jakarta Pusat, Senin (20/6)

Menurut Boy Rafli, adanya narasi yang bertentangan UUD 1945 dan Pancasila ini bisa diberikan penjelasan kepada masyarakat. Sebab dalam bidang pencegahan kita tidak ingin masyarakat masuk dalam situasi yang merupakan pelanggaran hukum.

Oleh karena itu, kita bekerja sama dengan media dalam kontra narasi, hal ini dimaksud mencegah yang dapat pelanggaran hukum banyak masyarakat kita yang tidak mengerti dalam hal ini.

"Dalam pencegahan ini kita terus melakukan literasi dan edukasi kepada masyarakat," jelasnya

Dalam kesempatan itu ketua Badan Penanggulangan Ekstrim Terorisme (BPET MUI) M. Saifullah mengatakan pada tahun 2023 akan menjadi momentum gerakan-gerakan kelompok tertentu yaitu hari 100 tahun kemerdekan dinasti Turki

Berkenaan penegakkan hukum kita mengapresiasi dengan memilah kadar keterlibatan, dimana yang tidak perlu ditoleransi di tangkap dan ada juga dengan program Deradikalisasi.

Di HTI kata Saifullah, pola pembinaan perlu kita pikirkan semoga saudara kita yang memegang teguh khilafah kita lakukan pembinaan yang manusiawi agar bisa kembali.

"Adanya Islamopobia hanya kecil, karena khusus umat islam negara kita sudah membuat aturan-aturan undang seperti undang-undang zakat, haji, dan lainnya jadi tidak terlalu mengkhawatirkan," pungkas Saifullah. (adrian)

Penulis:

Baca Juga