oleh

BEM UHAMKA: Fenomena Politik dan Demokrasi Masih Sangat Cair dan Liar

RadarKotaNews – Fenomena politik yang terjadi akhir-akhir ini membuktikan bahwa bangsa kita tengah menghadapi distruct yang cukup serius terhadap perkembangan demokrasi yang sudah di bangun.

Demikian di katakan Presiden Mahasiswa BEM UHAMKA, Hikmatullah dalam diskusi bertajuk
“Manifestasi Pemilu 2019 dalam menghadirkan pemimpin-pemimpin yang berintegritas untuk Indonesia Berkemajuan” di kampus UHAMKA pasar rebo jakarta timur, Sabtu (18/08)

Sambung dia, Hal ini terlihat dimulai dari isu pilkada DKI yang banyak mengeluarkan energi, kemudian pilkada serentak yang hasilnya masih menyimpan kekecewaan bagi pihak yang kalah. Dan yang terbaru, menurut dia, adalah fenomena pencalonan capres dan cawapres, lebih condongnya ke cawapres yang terlepas dari analisis para pakar dan publik umumnya.

“Hal tersebut menunjukkan bahwa fenomena politik dan demokrasi masih sangat cair dan liar.”ujarnya

Meskipun demikian, Hikma menilai, Cita-cita kehidupan demokrasi telah banyak memberi ruang dan waktu untuk mengeksplore genuine personality di kancah publik.

Keberadaannya, di satu sisi akan menjadi sesuatu yang positif apabila mampu menghadirkan konsep, ide, gagasan serta program-program yang mampu menuntun ke arah kedewasaan dan kematangan sebagai suatu bangsa.

Namun di sisi lain akan menjadi hal negatif apabila suku, ras dan isu primordial dijadikan sebagai tolak ukur untuk melaksanakan kehidupan berdemokrasi.

“Sebagai negara yang plural, saat ini kita sangat rentan untuk di adu domba dengan ujaran kebencian (hate speech) dan kabar bohong (hoaks) yang bertujuan untuk merusak atau memecah-belah persatuan dan kesatuan.”tukasnya

“Apalagi hate speech dan hoaks dijadikan sebagai instrumen kepentingan politik dan kelompok.”

Himatullah sebut, maraknya isu primordial yang terjadi akhir-akhir ini menunjukan bahwa kita kembali di ajak untuk mundur ke belakang di zaman pra sejarah. Sebab, konflik ideologis atas nama suku, ras, dan golongan telah memicu keretakan dalam rentan perjalanan sejarah.

“Kita tidak ingin menghabiskan energi untuk konflik sektarian tersebut, sebab kita sudah dengan susah payah membina persatuan dan kesatuan yang ada.”terangnya

Maka upaya untuk meredam tindakan separatis seperti itu adalah dengan memperbanyak dialog antar komponen, meredam egoisitas, menghilangkan kecurigaan dan prasangka, serta berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirat) dalam membina persatuan dan kesatuan.

Menurut Hikmah, sudah saatnya kita tampil sebagai mediator untuk membina persatuan dan kesatuan yang utuh.

Oleh karena itu, Melalui jalan demokrasi serta pemilu yang bersih lah persatuan dan kesatuan itu dapat diwujudkan.

Maka dari itu Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, (BEM UHAMKA) menyatakan:

Pertama, Mendukung KPU untuk menjalankan pemilihan umum yang bersih, jujur, adil dan berkompeten.

Kedua, Mengajak kepada pihak-pihak terkait untuk memberikan pendidikan demokrasi kepada rakyat agar mampu memilih pemimpin yang cakap, unggul dan memiliki kredibilitas.

Ketiga, Menghimbau kepada masyarakat untuk memilih pemimpin sesuai dengan pilihan hati nurani masing-masing

Keempat, Menolak segala bentuk tindakan money politik, black campaign dan tindakan negatif lainnya yang akan menciderai demokrasi.

Kelima, Menuntut pemerintah agar menjalankan PEMILU yang benar-benar Bersih, Adil, Jujur, Bebas dan Rahasia.(fy).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed