Belanja di Tengah Pandemi, Solusi Atau Bunuh Diri

Arsilah, Pemerhati sosial

Oleh: Arsilah

Hari raya tinggal menghitung hari, Ramadhan akan berakhir. Semua sudah mempersiapkan kebutuhan lebaran dengan begitu sempurna. Dari urusan dapur hingga pakaian. Namun apakah bijak jika kita rela berdesakan belanja di tengah pandemi tanpa mengkhawatirkan keselamatan diri.

Pasar Tanah Abang pada Sabtu (1/5/2021) dan Minggu (2/5/2021) mendadak menjadi "lautan manusia". Kompleks perbelanjaan terbesar di Tanah Air ini penuh sesak. Warga berdesakan mulai dari pintu masuk hingga lorong-lorong kios dan abai protokol kesehatan Covid-19.

Melihat kondisi ini, epidemiolog yang juga Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, dr. Riris Andono Ahmad, MD, MPH, Ph.D., mengatakan, seharusnya tidak boleh ada kerumunan. "Bukan karena dilonggarkan, kemudian artinya risikonya menjadi turun," kata Riris saat dihubungi Kompas.com, Senin (3/4/2021).

Ia mengatakan, risiko penularan bisa terjadi pada semua orang. Baik yang sudah divaksin, sudah pernah terjangkit Covid-19, terutama yang belum. Fakta membludaknya kerumunan menjelang lebaran dan potensi penyebaran virus tidak bisa dikembalikan pada kesadaran individu rakyat. Butuh kebijakan yang selaras dan mengantisipasi. (KOMPAS.com)

Saat sama, justru ada kebijakan pemerintah yang mendorong konsumsi dengan alasan perbaikan ekonomi. Sungguh kebijakan penuh ironi bahkan paradoks. Ditengah wabah yang belum berakhir ditambah perekonomian rakyat yang masih tersungkur, Sri Mulyani, menyarankan tetap beli baju baru walaupun mudik dilarang. Hal itu disampaikan Sri Mulyani saat menyampaikan keterangan pers APBN Kita, Kamis lalu.

Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani meminta masyarakat tetap menyambut Lebaran dengan penuh sukacita. Jangan lupa, kata dia, kegiatan belanja menjelang Lebaran seperti membeli baju baru harus tetap berjalan. Tujuannya agar kegiatan ekonomi tetap berjalan. "Ada bagusnya juga Lebaran tetap pakai baju baru, beli baju baru supayaaikan ekonomi. Sungguh kebijakan penuh ironi bahkan paradoks walaupun Zoom nanti pakai baju baru sehingga muncul aktivitas di masyarakat bisa terjadi," kata Sri Mulyani. WE Online Jakarta Sabtu 24/4/2021.

Fenomena semacam ini membuat keprihatinan yang mendalam. Di satu sisi, mudik dilarang, tempat ibadah ditutup demi mencegah penularan. Namun, di sisi lain pasar dan tempat transportasi dibuka demi perekonomian. Jika kondisi ini terus berlangsung, hal yang menakutkan akan terjadi. Menurut epidemiolog Universitas Padjajaran, Panji Fortuna Hadisoemarto pandemi ini bisa saja baru bisa diatasi setelah tiga tahun. Hal ini tentu akan membuat catatan panjang penanggulangan pandemi corona. Dan menambah daftar korban yang berjatuhan akibat penanggulangan yang kurang serius.

Sungguh miris hidup dalam sistem kapitalis, yang di pikirkan hanyalah perekonomian, walaupun sangat jelas wabah belum berakhir. Keselamatan dan perlindungan rakyat pun di nomor duakan. Rakyat butuh kebijakan yang pasti, bukan guyonan.

Ketakwaan Membawa Berkah

Dalam menghadapi pandemi ini, fasilitas kesehatan dan teknologi saja tak akan cukup. Diperlukan kebijakan yang efektif dan tegas, Bukan simpang-siur. Di Samping kebijakan harus dilandasi dengan ketakwaan, agar mampu meredam hawa nafsu. ketakwaan individu memiliki kedudukan yang penting. Individu yang bertakwa mampu memilih aktivitas mana yang dibolehkan agama mana yang tidak. Termasuk dalam menghadapi pandemi.

Kemudian, ketakwaan masyarakat. Sejatinya ketakwaan individu saja tak akan cukup. Perlu dukungan dari ketakwaan masyarakat. Masyarakat yang bertakwa akan berbondong-bondong saling menjaga, memperhatikan dan mengingatkan. Jika ada individu yang menyalahi aturan, masyarakat segera mengingatkan. Masyarakat akan bersama menjaga kondisi tetap terkendali. Mereka tidak akan berdesak-desakan di pusat niaga. Atau mudik di tengah pandemi demi menjaga keamanan sanak keluarga. Jika masyarakatnya bertakwa, mereka akan mengikuti aturan negara pula. Sehingga mudah diatur.

Namun dari keduanya yang paling penting adalah negara, disinilah peran negara sangat dibutuhkan. Negara memiliki andil dan kewajiban dalam penerapan aturan. Jika pemimpinnya bertakwa, tapi negaranya tidak berlandaskan akidah Islam, maka sia-sia. Pasalnya, manusia bisa berubah. Pemimpin adalah individu. Jika lingkungannya tidak baik, maka pemimpin bisa ikut arus.

Maka, pemimpin saat ini harusnya tinggal mengikuti contoh itu. Dengan landasan mengurusi urusan umat, ia harus mengeluarkan kebijakan yang sesuai hukum syara. Bukan sesuai takaran pikiran manusia. Sebagaimana membuka perdagangan dan transportasi demi jalannya pertumbuhan ekonomi, dan keberkahan pun akan mudah diraih.
Wallohu A’ lam Bishoab

*) Penulis adalah Pemerhati sosial

Baca Juga