Bahaya Moderasi Beragama Bagi Keluarga Muslim

Foto, Triana Nur Fausi (Pegiat Literasi dan Anggota Komunitas Penulis Peduli Umat)

Oleh : Triana Nur Fausi

Belakangan ini ramai terkait ide moderasi beragama yang di giatkan terus ke masyarakat, wabilkhusus bagi generasi muda lewat kurikulum pendidikan dan juga kepada keluarga-keluarga muslim lewat berbagai sarana seperti di acara TV, pelatihan-pelatihan ke anggota masyarakat dsbnya.

Lalu sebenarnya apa itu moderasi beragama ?

Menurut KBBI moderasi berarti (1)Pengurangan Kekerasan (2) Penghindaran Keekstreman. Maka, ketika kata moderasi disandingkan dengan kata beragama, menjadi moderasi beragama, istilah tersebut berarti merujuk pada sikap mengurangi kekerasan, atau menghindari keekstreman dalam cara pandang, sikap, dan praktik beragama. (Detik.com)

Paham moderasi beragama secara garis besar adalah paham keagamaan yang moderat, yang biasa-biasa saja sesuai dengan selera barat.

Sekilas ide ini nampak bagus, namun sebenarnya ide ini perlu di cermati kembali. Beberapa praktik moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari contohnya :

1. Keluarga muslim dianjurkan menjadi muslim yang moderat (muslim yang biasa-biasa saja dalam menjalankan keislamannya) sesuai dengan selera Barat dan agama tidak boleh dibawa-bawa untuk mengatur kehidupan.

2. Selanjutnya keluarga-keluarga muslim dijadikan sebagai keluarga yang terbuka dengan pluralisme. Pluralisme adalah paham yang menyamakan semua agama. Contoh pluralisme adalah mengucapkan selamat hari raya bagi non muslim, ikut dalam perayaan ibadah atau hari raya non muslim, sholawatan di gereja. Hal ini semua tentu melanggar batas-batas aqidah seorang muslim.

3. Kaum muslimin di pecah-pecah dengan berbagai label kelompok seperti Islam radikal, Islam liberal, Islam tradisional padahal ajaran Islam yang sesungguhnya adalah satu yaitu Islam Kaffah

Dari beberapa praktik moderasi beragama diatas ternyata jika ditelisik lebih dalam bisa mengaburkan nilai-nilai Islam,mengancam akidah Islam, karena menimbulkan kebingungan akan syariat. Tercampurnya mana yang boleh dan tidak, cenderung melihat mayoritas lingkungan dibanding hukum Allah SWT.

Selanjutnya juga akan menimbulkan Islamophobia di tengah kaum muslimin, takut akan ajaran Islam akibat narasi hoaks yang dibangun oleh kafir Barat.

Selanjutnya mencegah kebangkitan Islam, mengebiri ajaran Islam menjadi sekadar agama spiritual sebagaimana agama lainnya.

Serta mengebiri aspek politis Islam yang merupakan ideologi dan sistem hidup yang sempurna. Padahal sistem kehidupan berlandaskan akidah Islam memberikan petunjuk hidup terbaik, menjadi solusi bagi setiap problem hidup umat Islam.

Maka dengan begitu, umat Islam tidak perlu adanya moderasi beragama. Sebab Islam sudah sempurna dan tidak adalagi yang lebih tinggi darinya, maka tak ada hak bagi manusia untuk mengotak-atik syariatnya dengan mengurangi atau menambahkan.

Juga tak ada istilah muslim biasa, sebab menjadi muslim berarti taat kepada Allah SWT secara totalitas. Seperti firman Allah SWT, dalam surah Al-Baqarah ayat 85:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah: 85).

Wallahu’alam bisshawab

*) Penulis adalah Pegiat Literasi dan Anggota Komunitas Penulis Peduli Umat

Baca Juga