oleh

Awalnya Penuh Gebrakan, Kini Nadiem Makarim Kaget-Kagetan

Oleh: Muhammad Kamarullah

Kurang satu tahun menjabat, mas menteri nampaknya mengalami situasi gawat darurat. Jelas karena merebaknya pandemik Covid-19 ini. Mas menteri kelihatannya berbeda sekali.

Ketika terpilihnya Nadiem Makarim sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan Jokowi Jilid II, kita semua pelajar Indonesia mengharapkan agar pendidikan Indonesia bisa lebih maju, pokoknya semaju-maju mungkinlah!

Tentu pilihan Jokowi dalam memilih mas menteri ini sebagai menteri pendidikan Indonesia bukanlah sembarang memilih. Tidak semudah dulu, ketika saya menjadi peserta UN mengalami kesusahan dalam menentukan jawaban pilihan ganda soal-soal UN. Lantas kemudian menutup mata-menghitung kancing kemeja-diiringi dengan lagu anak-anak.

Tetapi pilihan Jokowi adalah berdasarkan pertimbangan A-Z. Apalagi Indonesia konon katanya akan menjemput bonus demografi 2045, di mana anak muda sekarang yang akan menjadi pionir dan lokomotifnya. Kebijakan pendidikan dalam instansi kementerian pendidikan harusnya dipimpin oleh seorang yang berkapasitas dan memiliki pikiran visioner. Mas Menteri Nadiem Makarim adalah orangnya.

Kurang satu tahun menjabat, mas menteri nampaknya mengalami situasi gawat darurat. Jelas karena merebaknya pandemik Covid-19 ini. Mas menteri kelihatannya berbeda sekali. Di mana dulu sering melakukan gebrakan, sekarang malah kaget-kagetan. Tapi bukan perkara luar biasa.

Mengenang, Ketika Awal-awal Mengenal Sam Nadiem

Dulu, sebenarnya enggak dulu-dulu amat sih. Tetapi pada 2019 lalu. Nama Nadiem Makarim selalu membanjiri dinding-dinding media social. Pemberitaan terkait gebrakan-gebrakan Mas Menteri mulai dari Merdeka Belajar hingga Kampus Merdeka menjadi perbincangan hangat. Ada yang pro dan kontra, namun semua dapat teratasi dengan beres, clear and clean. Begitulah, Mas menteri kok dilawan.

Awal-awal menjabat, ia adalah seorang yang tanggap. Kerja cepat dan tepat, tidak muluk-muluk. Apalagi kebijakan nya kalau dikritisi, dengan cepat ia mencari solusi dan pertimbangan untuk segera mengklarifikasi ke publik. Misalnya saja soal penghapusan Ujian Nasional (UN) yang juga menuai kritikan dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Mas menteri menjawab dengan nada santui “Enggak sama sekali membuat siswa lembek, karena UN itu diganti assessment kompetensi di 2021. Malah lebih men-challenge sebenarnya”, kata Nadiem.

Lain hal, ketika momentum Hari Guru, pidato mas menteri membeberkan publik. Hanya dua lembar, tetapi isinya menggugah, makna nya berlimpah ruah. Dari pidato itu, kita menangkap psikologi mas mentri sebagai rasa prihatinnya kepada Guru di Indonesia, saya yakin termasuk dengan kondisi guru honorer juga. Mas menteri juga mendorong agar perubahan kecil itu bisa dimulai dengan perlahan oleh siswa yang didorong oleh guru.

Sikap inilah yang dirindukan dari sosok Mas Mentri. Tetapi apa boleh buat, sikap yang di rindukan tidak terlihat sama sekali dalam situasi semacam ini? Bukan mau padlijon, eh Suuzon ya, jangan-jangan sampean malah beranggapan bahwa, semua proses belajar mengajar dilakukan dirumah/daring makanya sampean pun santui-santui saja dirumah, gitu? Kalau begitu sama saja sampean itu makan gaji buta, tapi tentunya ini sangat tidak mungkin lah, ya.

Buktinya mas mentri akhirnya datang dan bersuara juga. Mungkin karena mumet juga kepalanya dengan Juru bicara Covid-19 yang tiap hari melaporkan angka-angka kasus virus Corona. Tapi…

Mas Menteri Kaget, Tapi Tak Masalah

Dari awal wabah Corona ini, mas mentri jarang sekali tampil di tipi-tipi untuk menyampaikan kondisi objektif terkait masalah dalam proses belajar mengajar ditengah pandemi. Baru saja dalam telekonferensi yang disiarkan lewat YouTube pada 2 Mei kita melihat (hidung) orangnya. Mau bilang telat, tapi tidak apa-apa lah. Kebetulan saya baca, karena saya penggemar bapak yang istiqomah, Dimana bapak disiarkan disitu pasti ada saya yang selalu setia menonton dari jarak jauh. Ckck.

Tapi…kabarnya mas mentri kaget dengan keluhan dan kondisi pelajar yang tidak memiliki akses listrik dan sinyal. “Lalu ada yang bilang tidak ada sinyal TV bahkan ada yang bilang tidak punya listrik. Itu bikin saya kaget luar biasa, saya pun belajar sebagai mentri bahwa Indonesia ini masih banyak area-area yang sebenarnya tidak terbayang bagi kita di Jakarta, benar-benar tidak terbayang ada yang masih tidak punya akses listrik, bayangkan listrik Cuma nyala beberapa jam sehari”.

Seharusnya mas mentri tidak boleh kaget, bahkan ada kata sangat kagetnya loh. Ini sangat mengecewakan, Mas mentri harus kuat menjalani.

Banyak komentar terkait ke kaget an Mas mentri soal listrik dan sinyal ini. Sebuah tulisan di Pojokan Mojok dengan Judul “Aneh Banget Kalau Nadiem Makarim Baru Kaget Listrik dan Sinyal di Indonesia Nggak Rata” Rizki Prasetya (penulis) ia justru kaget dengan ke kagetan Nadiem karena baru kaget dengan kondisi semacam ini. Tulisan diatas menandakan mas Nadiem berhasil Make Indonesian Kaget again.

Tapi saya secara pribadi selow aja mendengar hal ini. Mengapa? Silahkan tulis di google dengan keynote “Jokowi Kaget” dan saksikan. Mulai dari berita tentang kekagetan ini-itu-sana-sini muncul ke permukaan. Saya sudah mencoba, dan ketika di scrool sampai di bagian akhir, masih tetap dengan berita yang terkait, ke kagetan Jokowi.

Artinya apa, saudara-saudaraku? bahwa pemerintah kita saat ini adalah pemerintah kaget-kaget an. Makanya kita tidak perlu kaget juga. Jangan sampai kita menjadi generasi kaget-kagetan. Biarkan lah pemerintah saja yang kaget-kagetan, dan kita ketawa-ketiwi mereka lewat tulisan-tulisan kita di Mojok.

Habis Kaget, Gimana Mas?

Tentu tidak mudah secepat kilat masalah pendidikan ini bisa teratasi. Tapi sudahlah, tidak perlu lagi menguraikan masalah pendidikan kita, apalagi yang berkaitan dengan infrastruktur dan suprastruktur.

Saya ingin kongkrit saja deh Mas, saya sarankan mas Nadiem. Begini : Sering-sering lah main ke Indonesia bagian Timur, jangan kesemua daerah deh. Ke Maluku Utara saja. Silahkan mengunjungi sekolah-sekolah yang berada paling pelosok, sekali lagi, paling pelosok. Jangankan listrik dan sinyal mas, bahkan perpustakaan yang seharusnya disediakan sekolah pun sangat minim dan bahkan nyaris tidak ada sama sekali.

Kalau soal listrik dan sinyal saja membuat mas mentri kaget. Lantas bagaimana dengan ketidak tersediaan perpustakaan dan buku-buku? Hmmm. Tapi nggak mungkin juga langsung stroke atau serangan jantung. Paling kaget lagi, lagi dan lagi.

Penulis adalah Mahasiswa FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed