oleh

Arah Rezim Jokowi Ke Depan

Oleh : Syahganda Nainggolan

Berbagai media belakangan ini memuat pernyataan Jokowi tentang kegagalan Jokowi sendiri atau pemerintahannya, yang dinyatakan oleh Jokowi sendiri, terkait kegagalan menangani pandemik Covid-19 dan dampaknya. Pengakuan ini sebenarnya diumumkan sendiri oleh istana, atas izin Jokowi, yakni peng-upload-an video rapat kabinet pada Kamis, 18 Juni lalu.

Dalam video tersebut dapat kita ketahui 1) Jokowi menuduh menteri kesehatan tidak becus, karena hanya menggelontorkan secuil anggaran (1,5 persen) untuk penanganan Covid-19. Padahal anggaran kemenkes Rp 75 triliun sangatlah besar.

2) Jokowi menuduh para menterinya tidak mempunyai “sense of crisis”, yakni perasaan bahwa situasi saat ini tidak normal. Tidak punya progress baik dalam 3 bulan ini. Padahal, situasi pandemik membutuhkan kerja dan kinerja dimana para menteri-menteri harus “extra ordinary” . 3) Jokowi menunjukkan nada kemarahan pada video tersebut. Jokowi mengancam akan melakukan reshuffle kabinet.

Dari wajah dan nada pidato Jokowi serta peng-upload-an ke publik yang berjarak 10 hari, terlihat Jokowi benar-benar frustasi pada situasi ini. Beberapa hal yang perlu diamati antara lain, 1) Jokowi telah resmi menyatakan bahwa kabinetnya hanya cocok untuk situasi normal, namun tidak kompatibel untuk situasi kriris. 2) Jokowi bingung dengan sudah adanya Perppu Corona, ternyata belum menghasilkan apa yang sebelumnya dibayangkan Jokowi sebagai payung gerak cepat menghadapi krisis ini. 3) Jokowi mungkin akan melakukan perombakan kabinet dan atau membubarkan lembaga yang tidak penting serta juga mungkin membuat Perppu tambahan.

Pertanyaannya kemudian adalah 1) apakah Jokowi jujur dalam mengatakan apapun akan dia lakukan untuk menyelamatkan 267 juta rakyat? 2) Jika Jokowi jujur bahwa dia pro rakyat, apakah Jokowi akan membuka ke publik bagaimana dia bisa menemukan orang-orang tanpa kredibilitas dan kapasitas itu bisa masuk menjadi anggota kabinetnya? 3) Apakah jika Jokowi me-reshuffle kabinet akan mampu mengatasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Khususnya soal anggaran sektor kesehatan, fokus bansos dan fokus UMKM dalam pidato itu. Dalam krisis kesehatan kita sudah terlalu hancur. Sedangkan krisis ekonomi, menurut Jokowi, krisis ekonomi dunia sudah terlalu dalam juga.

Melihat wajah dan ekspresi Jokowi dalam pidato tersebut, kelihatannya Jokowi mempunyai maksud baik, sehingga berani meng upload video tersebut ke publik. Ketika Jokowi mengatakan kecintaannya pada nasib 267 juta rakyat, terlihat wajah Jokowi seperti menangis. Namun, analisa wajah dan kata-kata dalam pidato sangat sulit ditafsirkan mengingat eksistensi Jokowi dan rezimnya saat ini adalah sebuah produk yang disadari Jokowi sejak awal.

Jika Jokowi melakukan reshuffle kabinet dan bahkan menerbitkan Perppu baru serta membubarkan lembaga yang tidak perlu, siapakah sekutu Jokowi melakukan itu? Apakah Jokowi punya sekutu yang berorientasi pada keinginannya untuk menyelamatkan nasib rakyat? Yang kerja “extra ordinary”? Bukankah rezim Jokowi selama ini lebih percaya pencitraan lembaga lembaga survei dan buzzer?

Jika reshuffle kabinet ternyata tiga bulan ke depan, sebagai mana “time frame” dalam pidatonya, hasil rezim Jokowi juga sama gagalnya, apa yang perlu didengar publik dari Jokowi? Bukankah kegagalan selama 3 bulan ke belakang, sebagaimana klaim Jokowi dalam pidato, sudah cukup membahayakan bangsa dan negara kita?

Penutup

Jokowi adalah “gentlemen” ketika mengakui kegagalannya dalam menangani pandemik dan dampak ekonominya selama 3 bulan ke belakang. Dari raut wajah, nada pidato dan ekspresinya, Jokowi terlihat serius dalam otokritik tersebut. Namun, membebani kesalahan ini pada menteri menterinya yang dikatagorikan tidak punya perasaan krisis (sense of crisis), bekerja biasa biasa aja pada saat ekonomi memburuk dan sektor kesehatan memburuk, serta akan di reshuffle, perlu penjelasan ke publik kenapa dan bagaimana Jokowi menemukan dan mengangkat menteri-menteri itu.

Jika Jokowi mengasumsikan kinerja pemerintahannya dalam ukuran 3 bulan ke depan harus punya progress yang hebat, dengan menteri-menteri baru, bagaimana jika hasilnya sama buruknya? Apakah menteri-menterinya juga yang salah?

Tantangan Jokowi ke depan sangatlah berat. Bisa jadi Jokowi mencintai rakyat sebagaimana klaimnya pada video tersebut. Namun, klaim itu butuh pembuktian lebih lanjut, karena rakyat tetap mengawasi.

*) Penulis adalah Direktur Sabang Merauke Circle

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed