Anggota DPRD Sula Kamal Upara, Soal Banjir Baleha: Jangan Jadi Pahlawan Kesiangan Demi Sebuah Pencitraan

Warga Desa Baleha terdampak bencana Banjir

RadarKotaNews, Malut - Lambannya penanganan bencana (Banjir) di Desa Baleha-Kec. Sulabesi Timur, Kab. Kepulauan Sula (Kepsul), Provinsi Maluku Utara mendapat ’kritikan pedas’ dari anggota DPRD Sula dari Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB, Kamal Upara.

Anggota DPRD Daerah Pemilihan II ini menyayangkan sikap Pemda Sula yang sangat lamban dan tidak mengambil langkah yang strategis untuk menangani bencana di Desa Baleha.

”Yang dilakukan Pemda Sula sangat tidak substansial, bencana banjir terjadi mulai hari minggu tanggal 19 Juni, kemudian terjadi lagi banjir susulan pada senin tanggal 27, tapi pemda baru mengambil langkah tadi, itu juga tidak menyasar pada titik permasalahan, padahal pemerintah desa, dan saya sendiri sebagai wakil masyarakat sudah berkoordinasi berkali-kali”, ujar Kamal kesal (28/6).

Dijelaskan oleh Kamal Upara bahwa Pemda Sula baru mengambil langkah dihari ke-9 pasca bencana, padahal selama itu pula masyarakat desa Baleha hidup dengan dihantui rasa ketakutan khawatir datangnya banjir susulan.

”Terbukti terjadi banjir susulan pada senin kemarin, kita masih beruntung tidak ada korban jiwa, namun kasihan masyarakat sangat menderita, yang dibutuhkan masyarakat itu alat berat untuk normalisasi, akibat patahan talud, sehingga air tidak lagi masuk ke pemukiman masyarakat”, lajut Kamal.

Lebih jauh dirinya menyesalkan kabar yang beredar hari ini, bahwa pemda sula mendatangkan alat berat, menurutnya itu pembohongan publik, karena faktanya alat berat datang atas upaya maksimal pemerintah desa bersama masyarakat, termasuk dirinya untuk mengupayakan alat berat milik mantan Bupati Kepsul, Hendrata Thes.

”Jangan jadi pahlawan kesiangan, jangan mengambil panggung bencana baleha demi sebuah pencitraan, yang dilakukan pemda hari ini adalah ’cuci tangan’ dari upaya keras pemerintah desa dan masyarakat”, pungkasnya.

Senada dengan Kamal Upara, Kepala Desa (Kades) Baleha Arifin Ahmad juga membenarkan, jika alat berat yang datang pada hari ini Selasa 28/6/2022 adalah upaya dari pemerintah desa beserta masyarakat sehari sebelumnya, yakni pada hari senin kemarin ketika datang banjir susulan.

”Langkah ini harus saya ambil demi untuk menyelamatkan masyarakat saya, jadi untuk alat berat itu tadi sudah dibayar 11,4 juta, untuk BBM itu sebesar 4,2 juta yang dibantu juga oleh pak dewan Kamal Upara, untuk alat berat biayanya bersumber dari dana desa, sebelumnya saya sudah berkoordinasi dengan Inspektorat untuk menggunakan dana tersebut, karena ini bersifat mendesak, dan tidak bisa ditunda-tunda”, tandas Kades Baleha.

Sementara itu awak media www.radarkotanews.com yang sempat turun ke lokasi banjir di desa Baleha kemarin mencatat sedikitnya ada 14 rumah warga yang terdampak dengan air yang menggenangi rumah warga sampai sepinggang orang dewasa, dan 1 unit rumah warga mengalami kerusakan akibat diterjang derasnya arus banjir.

Bukan hanya rumah warga, sarana pendidikan juga mengalami nasib yang sama, seperti TK dan PAUD Bintang Timur yang ruangan belajarnya masih digenangi lumpur sisa dari terjangan banjir kali baleha.
Dapat dilaporkan bencana ini terjadi akibat jebolnya talud penahan air dibukit yang tepat berada diatas pemukiman warga.

Pada hari pertama bencana talud tersebut patah sepanjang 30M, kemudian pada banjir susulan kembali terjadi patahan sepanjang 14 meter sehingga air tidak lagi mengalir menuju sungai dan berakhir ke laut, namun malah masuk menerjang pemukiman warga masyarakat desa Baleha.

Salah satu warga baleha yang dimintai keterangan oleh media ini mengatakan.

”Yang kami butuhkan alat berat untuk melakukan normalisasi, kami khawatir datang lagi banjir susulan, apa lagi ini masih musim penghujan, tidak bisa pemda hanya sekedar janji, terbukti ini sudah satu minggu belum juga datang alat berat dari pemda, untuk itu kami masyarakat desa rapat dan ambil keputusan untuk menyewa sendiri alat berat demi untuk keselamatan kami", ujar Alwis Yoisangadji.

Dari informasi yang dihimpun media ini, setelah banjir pertama pada minggu (19/6), aparat desa langsung melakukan koordinasi, sayangnya pemda sula hanya merespon dengan memberi bantuan makanan, berupa beras dan mie instan serta lainnya melalui dinas sosial, sementara yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya itu tapi alat berat yang langsung bisa menyentuh titik permasalahan.

Selanjutnya setelah kurang-lebih koordinasi selama 7hari, sampai datang banjir susulan pada Senin (27/6) baru pemda sula merespon dengan mengarahkan beberapa SKPD dipimpin langsung oleh Sekda untuk memberikan bantuan pangan, tapi tidak alat berat berupa Ekskavator.(RL)

Penulis:

Baca Juga