Al-Aqsa Kembali Diserang, Kecaman Kembali Terulang

Alumni Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Rahmi Surainah, M.Pd

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd

Kita merayakan lebaran dengan suka cita, beda halnya muslim Palestina penuh dengan duka. Menjelang Ramadan akhir hingga lebaran tiba Palestina kembali "berdarah". Beberapa kecaman pun disampaikan oleh berbagai pihak, petinggi dan penguasa negara yang mengetahui kondisi Palestina.

Sedikitnya 178 warga Palestina mengalami luka-luka dalam bentrokan dengan polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, pada Jumat (7/5) malam waktu setempat. Polisi Israel menggunakan peluru karet dan granat kejut terhadap warga Palestina yang melemparkan batu ke arah mereka.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (8/5), bentrokan ini pecah saat kemarahan memuncak di kalangan warga Palestina terkait potensi penggusuran sejumlah keluarga Palestina dari rumah-rumah mereka yang tanahnya diklaim oleh para pemukim Yahudi yang menggugat ke pengadilan

Penyerangan al-Aqsa Palestina mendapat kecaman dari berbagai pihak di Indonesia. Salah satunya, komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily mengecam tindak kekerasan polisi Israel dan mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mesti turun tangan. (detiknews.co, 10/5/2021)

Koalisi Perempuan Indonesia untuk Al Quds dan Palestina (KPIQP) ikut menyampaikan pandangannya dalam aksi damai secara virtual pada Minggu, 9 Mei 2021. Ketua KPIQP Nurjanah Hulwani menyampaikan kekerasan Israel terhadap rakyat Palestina sudah menjadi persoalan akidah sekaligus kemanusiaan. Menurut dia, dalam persoalan ini, umat Islam harus berjuang menanamkan kepedulian dengan peran masing-masing. (Viva.co.id, 10/5/2021)

Tidak Sekedar Kecaman!

“Birruh, Biddam, Nafdiika ya Aqsa!” (Dengan jiwa dan darah, kami akan bela engkau Al-Aqsa) adalah kalimat yang disampaikan oleh Muhammad Husein Gaja. Husein adalah seorang jurnalis dan duta Indonesia di Palestina yang selalu mengabarkan lewat media sosial kondisi saudara muslim di sana.

Saat ini serangan udara masih berlangsung, drone pengintai masih ada di udara, sejauh ini lebih dari 26 syahid, hampir setengahnya adalah anak-anak, sementara ratusan lainnya luka-luka. Kabar dari @inhforhumanity melalui @muhammadhusein_gaza

"Seorang Muslim bersaudara dengan muslim lainnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Serangan terhadap muslim Palestina adalah serangan terhadap muslim sedunia. Kita bersaudara. Diamnya kita adalah kejahatan. Bagaimana mungkin jika ada saudara kita yang dizholimi kita diam?

Doa itu pasti. Kecaman pun tidak ketinggalan. Angkat senjata, bantu mereka itu wewenangnya penguasa. Sebagai salah satu saudara muslim, saya pun sebagai penulis hanya bisa berdoa dan mengecam tindak zionis Israel. Harapannya umat Islam sedunia bersatu dalam satu kepemimpinan. Kirimkan dan bebaskan saudara muslim yang terdzolomi, bebaskan dan menangkan Islam.

Bersatulah Islam Sedunia!

Tentu tidak hanya sekedar kecaman yang dibutuhkan muslim Palestina. Perlu tindakan nyata, sebagaimana yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid 2 di masa kekhilafahan Turki Utsmani.

Dikutip dari Republika.co.id (7/12/2017), bahwa ketika wilayah Palestina berada di bawah kekuasaan Khilafah Turki Utsmani tahun 1867—1909, tidak ada upaya lain yang bisa dilakukan Yahudi kecuali dengan membujuk Turki Utsmani agar mau menyerahkan wilayah Palestina kepada Yahudi, atau setidaknya mengizinkan imigrasi secara resmi bangsa Yahudi ke wilayah tersebut.

Namun, upaya itu ditolak oleh Khalifah Turki Utsmani, yang saat itu dipegang oleh Sultan Abdul Hamid II. Sultan Abdul Hamid II mengingatkan, merupakan bahaya yang sangat besar bila dibukanya tanah Palestina untuk Yahudi. Pada tahun 1882, pemerintah Khilafah mengeluarkan dekrit yang melarang didirikannya pemukiman permanen Yahudi di Palestina, sekaligus menolak izin perpindahan bangsa Yahudi ke Palestina.

Berbagai upaya dilakukan tokoh zionis, antara lain Theodore Hertzl. Hertzl membujuk Sultan Abdul Hamid II agar mau mengizinkan kedatangan imigran Yahudi ke Palestina.

Tahun 1902, delegasi Hertzl kembali mendatangi Sultan Abdul Hamid II. Mereka menyodorkan sejumlah tawaran seperti: (1) memberikan hadiah sebesar 150 juta Poundsterling untuk pribadi Sultan; (2) membayar semua utang pemerintah Turki Utsmani yang mencapai 33 juta Pounsterling; (3) membangun kapal induk untuk menjaga pertahanan pemerintah Utsmani yang bernilai 120 juta Frank; (4) memberikan pinjaman tanpa bunga sebesar 35 juta Poundsterling; dan (5) membangun sebuah universitas Utsmani di Palestina. Namun, semua tawaran itu, ditolak oleh Sultan Abdul Hamid II.

Sultan pun berkata kepada Hertzl, “Sesungguhnya, saya tidak sanggup melepaskan kendati hanya satu jengkal tanah Palestina. Sebab tanah ini bukan milik pribadiku, melainkan milik kaum Muslim. Mereka telah berjuang untuk memperolehnya dengan darah mereka. Silakan Yahudi menyimpan kekayaan mereka yang miliaran itu. Jika pemerintahanku ini tercabik-cabik, saat itu baru mereka dapat menduduki Palestina dengan gratis. Adapun, jika saya masih hidup, meskipun tubuhku terpotong-potong, maka itu adalah lebih ringan daripada Palestina terlepas dari pemerintahanku.”

Benar saja, ketika Khilafah runtuh pada 1924 di tangan agen Inggris keturunan Yahudi, Mustafa Kemal, Yahudi dengan segera menggerogoti Palestina, hingga detik ini.

Demikianlah tindakan nyata yang dilakukan oleh penguasa muslim di kala itu. Kita kaum muslim membutuhkan penguasa dan kekuatan tentara muslim untuk membela kehormatan agama dan melindungi saudara. Kapankah itu?
Wallahu'alam...

*)Penulis adalah alumni Pascasarjana Unlam

Baca Juga