Ada Apa Dibalik Polemik Suara Azan?

Ilustrasi

Oleh: Nur Rahmawati, S.Pd

Belum lama ini Menag memberitakan tentang kenaikan biaya haji. Kemudian menerbitkan Surat Edaran (SE) yang mengatur tentang pengeras suara masjid dan mushala.

Aturan itu ditetapkan dalam Surat Edaran Mentri Agama No. 5 tahun 2022. Dalam surat edaran tersebut poin 3b dinyatakan bahwa penggunaan toa saat mengumandangkan azan diatur volumenya sesuai kebutuhan dan paling besar 100 desibel.

Ketua Komisi VIII DPR RI, Yandri Susanto, menanggapi Surat Edaran Nomor 5 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushala yang dikeluarkan Menteri Agama (Menag). Menurutnya pengaturan tersebut tak bisa digeneralisasi diterapkan di seluruh daerah.

“Memang saya mengkritiki juga, surat edaran itu tidak bisa digeneralisir, tidak bisa diperlakukan dari Sabang sampai Merauke. Ada daerah-daerah tertentu memang suara azan itu enggak bisa diatur-atur, atau bahkan di Sumatera itu kan rumahnya jauh-jauh, kalau Cuma 100 dB (desibel) enggak akan kedengaran,” kata Yandri, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. (republika.co.id, 25/2/2022)

Lagi-lagi dengan dalih toleransi, regulasi pemerintah kembali memojokkan umat Islam dengan menghambat syiar Islam. Pertanyaannya, mengapa baru sekarang Menag mempermasalahkan mengenai pengeras suara masjid dan mushala? Apakah ada ketidakharmonisan antarkehidupan beragama dengan dikumandangkannya suara azan?

Faktanya tidak demikian adanya. Indonesia mengumandangkan azan sudah berpuluh-puluh tahun lalu, tetapi kenapa baru sekarang azan dipermasalahkan. Anehnya hal ini terjadi di negeri yang penduduknya mayoritas muslim.

Namun tampak jelas sebenarnya bukan masalah azan yang menjadi pokok permasalahan, melainkan narasi toleransi yang sarat moderasi beragama yang berujung pada racun pluralisme dan siknretisme. Narasi toleransi dan intoleransi menjadi salah satu narasi yang begitu masif diaruskan di tengah-tengah masyarakat. Sehingga, jika umat Islam memegang teguh ajarannya dituding intoleran. Narasi ini pun dijadikan senjata politik untuk menjauhkan syiar Islam dari masyarakat luas dan membungkam sikap kritis umat Islam.

Nyatanya, toleransi tidak berlaku bagi kaum mereka yang menjalankan syariat Islam. Coba kita lihat umat Islam di India yang didiskriminasi terkait hijabnya. Di Myanmar, Palestina, Uighur, mereka terusir dari tanah mereka yang dimakan oleh para aggressor.Lalu dalam kejadian ini adakah lembaga dunia yang meneriakkan dalil toleransi atas kasus ini? Nyatanya tidak.

Lantas mengapa rezim saat ini jadi lebih beringas membatasi ajaran Islam dan begitu loyal terhadap nonmuslim hanya takut dianggap intoleransi? Sedangkan rakyat nonmuslim saja yang di antara mereka hidup berdampingan dengan masjid tak pernah mempermasalahkan suara azan dan tidak merasa terganggu.

Toleransi hakikatnya menjadikan setiap orang bebas menjalankan agamanya masing-masing. Pun dengan umat Islam. "Katakanlah (Muhammad), "Wahai orang-orang kafir aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Toleransi yang hakiki dalam Islam diterapkan sangat sempurna oleh Daulah Islam, penerapan aturan Islam pada semua warga negara baik muslim maupunnon muslim membuat nonmuslim tidak merasa berbeda dengan muslim. Daulah Islam memberikan jaminan kebutuhan pokok yang sama bagi warga negara Indonesia baik muslim ataupun nonmuslim. Mereka hidup sejahtera dalam naungan Daulah Islam. Sesungguhnya toleransi ini telah diterapkan sejak Rasulullah mendirikan daulah pertama di Madinah hingga kekhilafahan itu diruntuhkan kafir harbi.

Daulah Islam adalah potret Indah bagaimana dan seperti apa kerukunan antar umat beragama diterapkan. Hidup berdampingan antara muslim, kristen, Yahudi. Islam sepanjang kekuasaannya adalah teladan terbaik dalam memperaktikkan toleransi. Hanya aturan Islam yang pasti memuliakan agama Islam dan menghargai agama lainnya yang hidup berdampingan di dalam sistem Islam.
Wallahu a’lam bi ash-shawwab

*) Penulis adalah Pendidik Generasi

Baca Juga