Beranda Politik Tingkatkan Peran Generasi Mellenial Untuk Melawan Hoax dan Mencegah Golput Dalam Pilpres...

Tingkatkan Peran Generasi Mellenial Untuk Melawan Hoax dan Mencegah Golput Dalam Pilpres 2019

0
BERBAGI

RadarKotaNews – Demokrasi adalah satu-satunya cara atau aturan main atau the rule of game. Namun kalau ada yang sebut demokrasi itu toghut dan salah satu yang membatalkan iman maka mereka harus kita ruqyah bersama-sama.

“Penyakit kita hari ini sepanjang 5 tahun ini kita jadi voters saja,”kata Direktur Riset Setara Institute, Halili dalam diskusi bertajuk “Meningkatkan Peran Generasi Mellenial Melalui Media Massa Untuk Melawan Hoax dan Mencegah Golput Dalam Pilpres 2019” di Warung Upnormal jalan Raden Saleh, Jakarta pusat, Jumat (12/4/19)

Menurut Halili yang di butuhkan demokrasi adalah demos. Karna itu ia mengajak, Yuk jadi voters tapi hanya sampai penyelenggara pemilu menentukan pemenangnya. Setelah itu kita kembali menjadi demos.

Oleh karenanya, Problem demokrasi millenial kita punya kecenderungan merunduk. Melihat gadget tidak henti-henti.

Kaum milenial punya potensi besar untuk usung aspirasi pembaharuan, perubahan. Generasi milenial menunjukkan watak yang, Confident, berorientasi pada pencapaian

Sebagian besar generasi milenial akan tidur dengan gadget mereka. Mereka pelaku sekaligus korban potensial hoaks persentasinya adalah 83%.

Halili juga berharap kaum mellenial melawan hoaks, kenapa? Karena hoaks membangun distrust dan merusak peradaban, merusak reputasi personal, memanfasilitasi ekstremisme, memecah belah.

Di tempat yang sama Sekretaris PWI Jaya, Kesit B. Handoyo menyebut Media massa berbeda yang saat sedang trend dengan media sosial. Menurut dia, tidak bisa kita samakan media massa mainstream dengan media sosial. Ini dua ruang yang berbeda, undang – undangnya berbeda dan sanksinya berbeda.

“Kalau media sosial jika isinya yang kita posting hoaks atau tidak betul, ancamannya itu berbeda. Ini pakai UU ITE. Kalau hoaksnya itu berkaitan dengan SARA dan cemarkan nama baik maka bisa langsung ditangkap di atas 4 tahun,”jelasnya.

Namun demikian, ada plus minus media massa dengan medsos. Kalau media massa wartawan selain ada UU tersendiri kita juga punya kode etik jurnalistik. Wartawan dilarang ikut sebarkan berita bohong. Jadi saya kalau nulis di media massa maka saya dilindungi UU Pers, tapi kalau saya main di media sosial maka perlindungan pers saya lepas.

Selain itu Kesit juga berpesan, Kalau dapet info dari media tertentu, cek tentang kami atau boks redaksinya kalau gak ada maka saya pastikan itu media abal-abal.

Dalam kesempatan yang sama Staf Ahli Sekjen Kominfo RI, Dr. Hendrasmo mengatakan bahwa Pemilu ini ke depan kominfo sudah rilis info soal hoaks. Tiap hari hoaks semakin meningkat. Di bulan agustus 2018 sampai Februari 2019 itu ada 3-4 hoaks tiap hari. Pertengahan Maret lalu rilis ada 498 hoaks atau 17 hoaks per hari.

Apakah kalian bisa bedakan mana hoaks dan mana tidak hoaks. Ada data bulan agustus lalu memang susah bedakan hoaks mana yang bukan. 75% masyarakat tidak yakin apakah itu hoaks atau tidak. Yang benar-benar bisa tahu dan identifikasi suatu informasi atau narasi bukan hoaks hanya 24%.

“Hoaks itu banyak bentur-benturkan soal isu sosial suku ras dan identitas. Itu sangat tidak sehat bagi demokrasi kita,”jelasnya

Hendrasmo menilai, hoaks itu sudah serius sekali dan kita harus semakin aware dengan proses demokrasi kita. Oleh karena itu, Jangan sampai golput karena itu merugikan kita semua.

“Saya lihat bahwa hoaks lahir dari kontestasi politik. Diciptakan secara sengaja oleh orang-orang yang tidak memiliki komitmen pada demokrasi, tidak biarkan proses demokrasi penuh kebebasan.”kata dia.

Memang milenial ini figur yang spesifik. 1-2 orang di Indonesia adalah milenial. Dari data yang ada 8-10 milenial terkoneksi dengan gadget. Milenial sudah tidak baca surat kabar dan hanya 8 persenan.

“Saya harap teman-teman milenial bisa belajar banyak dengan senior bagaimana perjuangan menjaga demokrasi.”tukasnya.(Dirga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here