Beranda Nasional Said iqbal ; Presiden Jokowi Stop Retorika Ideologis

Said iqbal ; Presiden Jokowi Stop Retorika Ideologis

0
BERBAGI

Radarkotanews.com – Presiden KSPI Ir. Said Iqbal mengatakan bahwa Aksi gabungan di seluruh Indonesia akan dilaksanakan besok secara serentak di 20 provinsi. Di istana diperkirakan buruh yang hendak berunjukrasa mencapai 48 ribu berdasarkan catatan kami, tapi dilapangan bisa tidak sesuai. Karena itu setidaknya kami yakin sebanyak 30 ribu buruh akan berkumpul didepan istana.”Ungkapnya.

Said menambahkan, Aksi serupa juga akan dilakukan serentak selain di Jabodetabek, juga antara lain dilaksanakan di Bandung, Surabaya, Medan, Lampung, Gorontalo,dan Kalimantan barat.

“Perubahan titik kumpul aksi unjuk rasa di Jakarta, kami lakukan demi mempertimbangkan kemacetan yang dialami masyarakat.”Kata Presiden KSPI Ir. Said Iqbal saat diskusi tentang agenda penjelasan aksi buruh 1 SEPT serempak di seluruh Indonesia, di Jakarta, senin (31/08).

Titik kumpulan massa pada aksi besok pagi di Patung Kuda (antara gedung BI dan Indosat). Kemudian sekitar jam 10 pagi longmarch menuju patung kuda dan istana presiden.”Tambah said iqbal,
Di istana nanti kita akan ditemui oleh beberapa orang mentri antara lain Menseskab. Lalu dari istana negara kumpulan massa buruh akan dipecah ke Menkes dan ke Menakertrans.”Ungkap dia.

Kami mohon maaf kepada masyarakat karena akan terganggu dengan aktivitas aksi ini. Tapi ini demi memperjuangkan nasib buruh agar lebih baik nasibnya.”Pintanyam

Selain itu said juga minta presiden Jokowi stop retorika ideologis (misalnya dengan revolusi mental) sebab yang dia butuhkan sekarang kerja nyata dan paket ekonomi besar (regulasi dan implementasi kebijakan anggaran menyentuh sektor riil).”Dia tidak setuju jika pemerintah menaikan upah, lalu diikuti dengan kenaikan yang lainnya. Yang dia inginkan adalah upah untuk hidup layak, orang miskin/buruh punya daya beli. Sehingga BLT harus dihidupkan kembali seperti tahun 2008.

Sementara di tempat yang sama Sekjen KSPSI Subiyanto mengatakn dia prihatin dengan situasi sekarang, apalagi tidak ada upaya konkrit dari pemerintah. Karena itu yang harus kita lakukan adalah adanya upaya konkrit yang bisa mengatasi krisis karnena bahan baku kita masih banyak dari luar.”Bebernya.

1 Desember 2015 adalah penetapan MEA, namun belum juga ada langkah pemerintah untuk menentukan posisi Indonesia agar berada di posisi untung bukan ‘buntung’ karena dari aspek komunikasi, dan sebagainya posisi Indonesia lemah. Belum lagi banyaknya tenaga kerja tidak terdidik yang masuk ke Indonesia.”Tutup subiyanto.

(Nn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here