BERBAGI

RadarKotaNews – Kondisi perekonomian Indonesia saat ini sudah lampu kuning (gali lubang tutup jurang) karena primary balance negatif, debt service ration sudah 39%, tak ration hanya 10%an karena pengelolaan fiskal tidak frudent atau ugal-ugalan, trade accoaunt, service accoaut dan current account semuanya negatif. Disamping US Fed Rate, itulah alasan utama kenapa kurs Rupiah terus anjlok.

Demikian pendapat pakar ekonomi, Dr. Rizal Ramli, dalam diskusi publik dengan mengangkat tema “Rupiah Rontok Harga Meroket Arahnya Kemana???”, di Kantor Sekber Indonesia Jalan Kemuning, Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta, rabu (11/07) malam.

Dikatakan RR, ada menteri keuangan yang selalu ngomong bolak balik, kami prudent, kami prudent. I’m sorry you’re not prudent!

Selain itu pemerintah juga sering membangga-banggakan kondisi perekonomian Indonesia. Padahal kata dia, bila dilihat dari sisi neraca perdagangan, Indonesia mengalami defisit dalam beberapa bulan terakhir. Ini sebetulnya sudah setengah merah. Kami sopan saja, hati-hati untuk bilang prudent. Ini sudah setengah merah, dan ini sudah kami bilang akhir tahun lalu.

“Ini sama sekali tidak prudent, kalau ada menteri yang bilang prudent-prudent, apanya yang prudent. Kalau prudent ini angkanya positif, bukan negatif.”katanya.

Ada startegi yang mampu mengurangi hutang Indonesia mencapai USD 10 miliar atau setara Rp 139,7 triliun (Rp 13.967 per USD) di 2019. Strateginya ini dipakai pada saat pemerintahan Gusdur saat itu ialah dengan pertukaran.

Pasalnya, Kita tidak bisa bertindak untuk hutang ini hanya dengan menjadi good boy, yang bayar hutang pada waktunya. Karena beban hutang kita sudah kebanyakan. “Kita harus berani inovatif. Manajemen mengelola hutang dengan inovatif.” Kita tukar hutang mahal dengan hutang murah dan sebagainya, banyak cara.

“Tidak bisa lagi sekedar good boy dipuji-puji sama asing.”tegasnya.(wawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here