Rekonsiliasi Dalam Kedunguan yang Dikekalkan

Oleh: Habib Salim Al Athos

Tradisi buruk yang disepakati kampanye secara sistematis dengan UU dan difasilitasi APBN untuk rutin per 5 tahun, berseteru, saling memfitnah, saling menghujat untuk berpecah belah sesama anak bangsa..

Bahkan Islam dijadikan tunggangan atau sasaran tembak kekejian dan dinistakan, di ingkari bahkan diadu adu konfrontasi firman Alloh, dan peribadahan Islam dijadikan Alat peraga

Begitu selesai kontes adu domba rakyat dalam kubu politik lalu dimulai ajakan Fir’aun dengan bahasa indah rekonsiliasi untuk berseteru kembali 5 tahun ke depan dan untuk rekonsiliasi kembali..terus menerus rutin dalam kedunguan yang dikekalkan..

Masya Alloooh..Alloh menyindir kita..afala yatafakaru,…afala yanzuruun,..afala ya’qiluuun…

Kalo bangsa ini cerdas para profesor tekhnologi, sosiologi dan antropologi.. sesungguhnya karakter bangsa ini sangat tidak cocok dengan demokrasi pemilihan langsung karena sama dengan menghidupkan tabiat asli bangsa ini sejak pra sejarah gemar berperang sesama etnis Nusantara..gemar khianat, gemar suap, gemar menjadi musuh dalam selimut, gemar adu domba, gemar pecundang..

Tabiat asli bangsa ini dihidupkan dengan gegap gempita setelah Islam dengan para Wali meredamnya dan menghabisi tabiat buruk tersebut dengan akhlak Islam….

Bagaimana jadinya bangsa ini kedepannya jika tabiat historis etimologis antropogisnya yang buruk tersebut subur kembali.(***)

Jakarta 13 Juli 2019