Beranda Opini Proyek Surat Yasin Kematian Orang Tuanya

Proyek Surat Yasin Kematian Orang Tuanya

0
BERBAGI

Mental ‘bobrok’ dan Korup Orang Indonesia

Oleh: Rahman Latuconsina

Tulisan Saya kali ini adalah kisah nyata. Mungkin tidak secara detail Saya ceritakan, namun secara jelas akan saya gambarkan. Sehingga pesan moral yang ada dalam tulisan ini secara positif bisa Kita maknai.

Kejadian ini terjadi di Depok 17 tahun yang lalu, jadi tepatnya di Tahun 2000. Waktu itu Saya baru lulus sekolah SMU di Ambon (Masohi-Maluku Tengah) lalu hijrah ke Jakarta karena terjadi konflik SARA berkepanjangan disana.

Waktu itu Saya dan teman-teman sebaya dan satu tongkrongan membuat satu ‘bengkel kreatif’, bengkel Percetakan kecil-kecilan yang sepakat Kami beri nama “Garasi 22”. Karena memang laboratoriumnya bekas garasi.
Kami menerima order, membuat Spanduk, Sticker, Undangan, Neon Box, Neon Sign serta percetakan lainnya termasuk SURAT YASIN.

Market Kami waktu itu hanya teman sekitar, serta kolega dan relasi dekat, maklum usaha yang Kami cetuskan hanya ber-misi mandiri dan bebas minta uang jajan dari orang tua.

Namun dari sekian banyak order yang pernah Kami garap mungkin yang paling menarik bagi saya adalah “Project Surat Yasin”.

Project ini di order oleh Teman Kami yang merupakan ‘mahasiswi’ (jadi jelas yahhh kelaminnya-Red) di salah satu Perguruan Tinggi di Depok. Untuk acara 100 hari kematian Ayah tercintanya. Kalo tidak salah 200Pcs yang artinya 200 eksemplar Kami harus menyablon Foto ayahnya serta ucapan ‘mengenang’ yang Kami tempel di depan Surat yasin yang rencananya akan dijadikan Sovenir bagi para Pembaca Tahlil dan mereka yang ber Ta’jiyah di Kediamannya.

Bagi Kami ini tetap Project, namun bagi ‘si gadis’ teman Kami seharusnya ini adalah Ibadah. Apa lagi yang meninggal Ayahhanda tercinta.

Si Gadis dengan bangga dan senang hati menaikan harga hampir 100% hasil negosiasi Kami, jadi sekiranya deal harga 1.000,-/pcs, dia laporkan 1.800,-/pcs yang artinya dia me-mark Up Rp 800X200pcs X 2 epl = sekian.
Harga sekian itulah ditambah harga pokok yang dilaporkan ke Ibunya, dan itu yang harus dibayar. Sayang Kami mengetahuinya di akhir, bukan diawal project ini.

Jadi sebegitu bobrok dan hancurnya mental serta moril orang Indonesia, (maaf) Saya tidak mengatakan orang islam. Tapi orang Indonesia, karena hal ini bisa terjadi pada siapapun.

Mental Korup Orang Indonesia sudah menjadi latent yang mematikan, pernah kah si gadis berpikir bahwa itu Ritual Keagamaan untuk melapangkan Kubur Ayahnya? Bahwa itu bagian dari Ibadah???
Tentu tidak !!!
Yang ada di dalam benaknya adalah bagaimana cara mudah mendapatkan uang Saku, untuk tetap bisa hidup dan bergaul secara hedonis di Kampus nya.

Prilaku Korup memang tidak pandang bulu, serta tidak tebang pilih, justru hal ini yang terjadi pada penanganannya.

Sedangkan Korupsi itu sendiri secara harafiah adalah dapat berupa Kebusukan, Keburukan, Kebejatan, Ketidak jujuran, Suap, Amoral, serta penyimpangan dari Kesucian.

Jadi yang dilakukan gadis teman saya ini bisa dikategorikan akumulasi dari Korupsi yang terjadi pada umumnya, karena Prilaku yang tergambar jelas menciderai UU Dunia dan Akhirat, memang Pasal Pencurian dalam Keluarga bisa dimaafkan karena masuk ‘kategori delik aduan’. Bisa bebas dari tuntutan Pidana jika si Pelapor mencabutnya, namun apa pada Undang-undang akhirat ada dispensasi seperti itu???.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here