Beranda Politik Radikal Itu Hanya Alat Untuk Mendapatkan Pengikut ‘Kohesen Force’

Radikal Itu Hanya Alat Untuk Mendapatkan Pengikut ‘Kohesen Force’

63
0
BERBAGI

RadarKotaNews – Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI), Boni Hargens menilai penyadaran masyarakat pemilih adalah pilihan yang mutlak untuk mengurangi pengaruh radikalisasi dalam politik terutama dalam rangka Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019.

“Di berbagai daerah sudah banyak spanduk dan seruan politik radikal. Nasioanlisasi politik radikal sudah berjalan secara sistematis.”katanya

Memurut Boni, bisa dipastikan kaum radikal ingin head to head dengan kubu Jokowi pada Pilpres 2019 sehingga yang muncul hanya 2 kandidat.

“Kalau ini terjadi maka Pilpres 2019 adalah pertarungan nasionalisme keindonesiaan versus radikalisme.”ujar Boni dalam diskusi yang bertajuk “Kemana kiblat politik kelompok radikal di Pilpres 2019″di kawasan Kuningan Jakarta selatan, Rabu (13/12).

Selain itu, Mantan Ka Bais Laksda Purn. Soleman B. Ponto menilai bahwa radikal itu hanya alat untuk mendapatkan pengikut (kohesen force).

Menurutnya, untuk menjadi Presiden itu harus mendapat dukungan, dan radikal ini salah satu cara atau alat untuk mendapatkan dukungan.

Termasuk dulu Soekarno membuat Nasakom tujuannya untuk mendapatkan dukungan dari nasoinalis, kelompok agama dan kelompok komunis. Jadi sebagai alat maka radikal itu lumrah saja dipakai seperti halnya pisau yang bisa digunakan untuk apa saja.

“Jadi kalau indonesia ingin tetap seperti sekarang ini maka 2019 pilihah yang dapat menjaga indonesia yang berdasarkan pancasila dan UUD 45.”pesan Ponto.(Adrian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here