Beranda Nasional PGI Dorong Percepatan Pembangunan yang Terjadi di Papua

PGI Dorong Percepatan Pembangunan yang Terjadi di Papua

0
BERBAGI

RadarKotaNews – Persekutuan Gereja – Gereja Indonesia (PGI) sangat menyambut positif dan mengapresiasi kehadiran negara untuk mendorong percepatan pembangunan yang terjadi di Papua dengan berbagai kebijakan pembangunan yang sudah dan sedang dilakukan.

Hal tersebut di sampaikan Biro Katolik Persekutuan Gereja – Gereja Indonesia (PGI), Pdt. Albertus Patty saat konferensi pers terkait konflik bersenjata di Kabupaten Nduga Provinsi Papua, di Gedung Oikumene PGI Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/19)

Namun kata Albertus, PGI sangat prihatin melihat kondisi di Papua yang terus menerus belum bisa diselesaikan dengan kebijakan yang tanpa kekerasan.

Dalam kasus Nduga, PGI sangat berharap ada kebijakan baru tanpa kekerasan walaupun tantangannya sangat besar. Karena itu perlu dirumuskan ulang pendekatan baru bersama pemerintah setempat (Pemprov dan Pemda di pegunungan Papua).

Menurut Albertus, Konflik bersenjata antara aparat kemanan TNI-POLRI dengan TPN/OPM pasca penyerangan dan pembunuhan terhadap karyawan PT. Istaka yang terjadi sejak 2 Desember 2018 hingga sekarang belum usai.

Terhadap peristiwa ini, PGI melalui Siaran Persnya pada tanggal 5 Desember 2018 telah meminta aparat yang berwewenang untuk melakukan penyelidikan secara tuntas agar tidak terjadi konflik berkelanjutan dan mengakibatkan korban.

“Akibat peristiwa Nduga ini, korban masih terus menerus berjatuhan karena siklus kekerasan dan pembalasan yang dilakukan oleh kedua pihak silih berganti.”katanya

Pasalnya, hingga Jumat 9 Agustus 2019 jumlah korban yang tewas mencapai 182 orang dari kalangan masyarakat Nduga dan 14 orang dari TNI/POLRI. Peristiwa jatuhnya korban membuat trauma dan ketakutan yang luar biasa bagi warga sehingga terjadi pengungsian besar-besaran.

Albertus juga menyebutkan Jumlah pengungsi saat ini sebanyak 44.821 orang yang merupakan warga dari 31 Distrik/Kecamatan. Sebagian besar dari mereka adalah warga dari 40 gereja yang berada di daerah Nduga. Mereka meninggalkan rumah dan harta benda mereka agar luput dari pertempuran TNI-POLRI dan TPN/OPM. Mereka hidup di tenda-tenda pengungsian dan sangat membutuhkan bantuan.

Sementara itu, kebutuhan akan fasilitas kesehatan dan pendidikan juga menjadi terbengkalai terutama bagi perempuan dan anak-anak. Pemerintah Kabupaten Nduga berupaya memberikan bantuan namun karena situasi yang mencekam bantuan tersebut masih kurang berupa makanan, pakaian, air minum dan lain-lain.(Wawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here