Peranan Pemuda Masih Menjadi Agent Of Control Dan Belum Sampai Ke Agent Of Change

Radarkotanews.com, Jakarta – Pengamat Politik, Karyono Wibowo mengatakan bahwa peranan pemuda tak terbantahkan dan mengukir sejarah.

Menurut Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini, kalo soal peran pemuda menjadi pengaruh bagi kemajuan suatu bangsa. pemuda bermental tempe, pragmatis, apakah ada pemuda yang progresif. tegas Karyono.

Ia menilai peranan pemuda masih menjadi agen of control dan belum sampai ke agent of chance. contoh kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap rakyat, masih ada upaya pemuda atau mahasiswa untuk menentukan arah kebijakan di republik ini.

Karyono menghimbau, Pemerintah dan pemuda harus besinergi, dan pemerintah tidak memberikan ruang kepada pemuda untuk berkreasi dan menunjukan sebagai pemuda yang agent of control dan agent of change dalam menentukan arah perubahan.

“Saat ini pemuda masih menunjukan sebagai agent perubahan, tetapi kecendrungan mengidap penyakit hedonisme, kehilangan kepekaan sosial pemuda, dan masih apatis walaupun tidak semuanya.”ujar Karyono dalam sebuah diskusi yang bertajuk “Peran Pemuda dan Mahasiswa Dalam Menjaga Stabilitas Nasional Guna Mewujudkan Pembangunan Berkeadilan” yang di selenggarakan oleh GEMA Indonesia di Dunkin Donat Jakarta pusat, senin (22/08/2016)

Lanjut Karyono, Pasalnya, mental instan mudah ingin hidup enak tanpa harus bekerja, karena faktor liberalisme yang merupakan anak kapitalisme dan liberalisme yang menyebabkan pemuda menjadi individualisme.

Tidak hanya itu tambah Karyono, ada suri tauladan yang diberikan pemimpin saat ini menyebabkan pemuda menjadi dis orientasi, dan terjadinya pergeseran nilai. contoh pergeseran nilai adalah sikap pemuda yang membanggakan bangsa luar dari pada negeri sendiri.

Sementara di tempat yang sama Politisi Hanura, M Pradana Indraputra, sepakat konteks tantangan kepemudaan berbeda yang dulu dan sekarang, mahasiswa sebagai agent of change dan agent of control dua-dua harusnya dijalankan dan saat ini mahasiswa hanya menjalankan agent of control saja, artinya hanya mengkritisi tetapi tidak memberikan solusi.

“Mahasiswa dan pemuda bukan sebagai kompetitor pemerintah sebagai kolaborator pemerintah.”tutupnya. (F)