Beranda Suara Rakyat Netizen VS Cityzen

Netizen VS Cityzen

0
BERBAGI

Oleh: Rahman Latuconsina, SH

17 April 2019 menjadi puncak perhelatan Demokrasi 5 Tahunan di Indonesia, sekaligus juga menjadi metamorfosis perkembangan Alam Demokrasi di Indonesia. Indonesia memang mengalami pertumbuhan yang luar biasa serta begitu pesat pada bidang Demokrasi, namun sangat disayangkan jika tidak diikuti oleh bidang lainnya sebagai penopang perkembangan bidang ini, bidang Hukum misalnya; agar tidak ada lagi anomali atau keragu-raguan.

Pada era SBY, Lembaga survei menjadi salah satu kiblat juga tafsir membaca peta politik di Tanah air dengan berbagai dinamikanya. Kita bisa melihat pada masa itu konsultan politik yang berlatar belakang lembaga survei menjadi profesi baru yang menggiurkan. Pilkada diberbagai daerah seperti perang lembaga survei.

Apakah hasil survei adalah harga mati?
terkait pertanyaan diatas pasti mayoritas orang akan menjawab bahwa TIDAK. Jika kemudian menjadi referensi Oke, kemudian tidak juga incracht, jika menjadi salah satu alat ukur Iya, namun tidak bisa menjadi satu-satunya tolak ukur. Karena secara ilmiah khusunya pada pemilu skala nasional seperti Pilplrea atau Pilgub, sulit rasanya harus mengambil 50:1 sample dari ratusan juta audiens yakni penduduk Indonesia yang menjadi jurivotters. Jadi sepakat survei hanya salah satu Indikator, bukan suatu yang pasti, ada akurasi namun jangan langsung menjadi validasi.

Bergeser pada era Jokowi, ada rivalitas dan pertarungan sengit antara Masyarakat Dunia Maya dan Masyarakat Dunia Nyata. Percaya atau tidak, suka atau tidak suka itu yang terjadi.

Jika kita berkaca pada Demokrasi Modern di USA, maka Kita akan menemukan indikasi bahwa salah satu metode pemenangan Trump adalah dengan menggunakan Facebook. Pengaruh sosial media begitu kuat dan menjadi kekuatan utama yang mempengaruhi alam bawah sadar Kita. Sehingga Indonesia menjadi salah satu Negara yang mengalami pertempuran Hebat atas Masy. Dunia Maya dan Nyata, atau Netizen VS Cityzen.
Hal ini yang kemudian menggeser dominasi Lembaga Survei, atau bisa jadi menjadi compass baru para lembaga survei.

Rumusan diatas kertas, sosmed mempunyai akurasi yang cukup tinggi, dan tingkat kevalidannya bisa dipercaya, Kita bisa melihat keberpihakan pemilik suara atau vootgeters pada suatu masalah atau wacana, arus kuat ini kemudian menjadi populis.

Bagaimana menentukan pemenangnya?
sederhana !!!

Jika menjadi viral itu idikatornya.
Namun sayang pergerakan pada arus dunia maya sering kali berbenturan dengan Norma dan Etika, hanya para cyber yang mengabaikan itu, kemudian Pasal-pasal Pidana serta ancaman Hukuman atas prilaku ini juga menjadi ambigu, pada pasal 310 KUHP terkait Fitnah, pencemaran nama baik dan pada UU ITE menyangkut persoalan hoax kerap menjadi perdebatan menarik diruang publik.

Pada pemilu 2019 ini akan menjadi pertarungan menarik antara Netizen VS Cityzen, bentuk apapun pada pertarungan ini diharapkan dapat membawa kebaikan dan pengaruh positive pada perkembangan Alam Demokrasi di Indonesia.

Penulis adalah presedium Aliansi Masyarakat Peduli Demokrasi Indonesia (AMPDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here