Beranda Nasional Radikalisme dan Perkembangannya Di Indonesia

Radikalisme dan Perkembangannya Di Indonesia

53
0
BERBAGI

RadarKotaNews – Dosen President University, Dr. Muhammad A.S Hikam, MA, mengatakan deradikalisasi memiliki dua makna pemutusan (disengagement) dan deideologisasi (deideologization). Pemutusan artinya mendorong kalangan radikal untuk mereorientasi diri melalui perubahan sosial-kognitif sehingga mereka meninggalkan norma, nilai, aspirasi dan perilaku yang diikuti sebelumnya, menuju norma baru.

Sedangkan deideologisasi dimengerti sebagai kontra ideologi yang mengacu pada upaya menghentikan pemahaman dan penyebaran ideologi radikal.

“Fokus deradikalisasi, dalam pengertian ini adalah pembendungan atau setidaknya netralisasi pengaruh pemikiran radikal atau kontra radikalisme.” kata A.S Hikam dalam diskusi bertajuk “Melalui Joint Analysis Kita Tingkatkan Sinergitas Antar Kementrian/Lembaga Dalam Rangka Antisipasi Ancaman Terorisme Regional”. di Baintelkam Mabes Polri Jalan Trunojoyo No. 3 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Selasa (05/12).

Sambung dia, Radikalisme yang semakin ramai serta peran aktif masyarakat sipil Indonesia (MSI) sebagai kekuatan penting dalam proses deradikalisas, kelompok radikal islam tidak lagi regional tetapi sudah transnasional, ideologi transnasional Islam semakin luas.

Menurutnya, Pendekatan kekuatan keras (hard power) menggunakan cara-cara kekerasan (terorisme, iraurgensi, revolusi, dll), untuk penegakan hukum telah menunjukkan hasil yang diakui oleh komunitas internasional dan masyarakat Indonesia, tapi juga harus dilengkapi dengan pendekatan lunak (soft power) menggunakan cara-cara lunak (penyebaran ideologi, propaganda, dll).

“Dampak perkembangan kelompok Radikal Islam mewaspadai pengaruh ISIS melalui jaringannya Amman Abdurrahman, Abu Bakar Ba’syir, penerus Alm. Santoso), mewaspadai ormas pendukung ISIS di Indonesia yang cenderung bertambah, pengaruh gerakan Islam radikal transnasional padalingkungan strategis regional terjadinya kerjasama antara jejaring terorisme dengan kelompok separatis seperti kasus Marawi.”katanya.

A.S Hikam menilai, Implikasi terhadap kebijakan nasional terkait dengan penangguhan terhadap radikalisme khususnya pendekatan deradikalisasi, penggunaan pendekatan yang bertumpu pada aspek ipoleksosbudkam masih sangat relevan.

“Yang saya takutkan metode teroris saat ini adalah penggunaan kendaraan untuk menabrak seperti di luar negeri, menggunakan cara-cara mengklaim bila ada kejadian-kejadian bom, sebagai contoh teroris transnasional seperti HTI dalam pemahaman ideologi sama seperti pamahaman teroris transnasional, bagaimana aksi-aksi teroris regional seperti di Marawi, tingkat ideologi regional terroris untuk menciptakan kesepakatan kerjasama, keberhasilan ISIS di Marawi sebagai penunjukkan bahwa ideologi mereka berkembang.”terangnya

Sebab kata dia, radikalisme pasca Perppu ormas diperkirakan akan ada aksi kelompok radikal atas disahkannya Perppu No.2 Tahun 2017 tentang Ormas.

“Aksi-aksi kelompok radikan akan melebur dengan aksi-aksi dari kelompok lain yang mempunyai platform bela agama, kelompok mahasiswa dan buruh.”jelasnya

Oleh karena itu A.S Hikam berharap, Peran Polri (Baintelkam) dalam deteksi dini dan cegah dini radikalisme sangat penting dalam penanggulangan terorisme di Indonesia.(Adrian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here