Beranda Internasional Menteri PP&PA Hadiri Konferensi Women Deliver 2016 di Copenhagen, Denmark

Menteri PP&PA Hadiri Konferensi Women Deliver 2016 di Copenhagen, Denmark

0
BERBAGI

RKNews.com, Copenhagen, Denmark – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise menghadiri Konferensi Women Deliver 2016 di Copenhagen, Denmark. Konferensi ini dihadiri ribuan orang paling berpengaruh di dunia, diantaranya pembuat kebijakan, aktivis, jurnalis, dan anak-anak muda dari 150 lebih negara di seluruh dunia untuk mendiskusikan manfaat Sustainable Development Goals (SDGs) bagi kehidupan perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia.

Dalam konferensi ini dibahas isu-isu yang banyak dihadapi perempuan diantaranya yaitu kesehatan perempuan dan anak perempuan, terpenuhinya hak-hak dan menjamin keberadaan mereka, serta memastikan isu-isu tersebut menjadi skala prioritas nasional dan dunia. Konferensi ini dibuka pada 16 Mei 2016 pukul 16.30 waktu setempat oleh Putri Mahkota Denmark, Putri Mary.   

Sebelumnya pada 17 Mei, Menteri Yohana menjadi panelis dalam Forum Investing in Girls and Women Best Buys in Finance, Education, and Health, dengan tema young people as co-drivers of progress. Selain Indonesia, ada beberapa negara lain yang turut ambil bagian sebagai panelis, yaitu Srilanka, Ghana, Perancis, dan Algeria.

Dalam diskusi panel tersebut, Menteri Yohana menyebutkan strategi efektif dalam investasi prioritas pada anak muda adalah dengan mengimplementasikan strategi berbasis gender, mempromosikan, dan memenuhi hak anak. Selain itu, Menteri Yohana menyebutkan Revolusi Mental merupakan salah satu strategi efektif untuk mengubah mindset anak-anak muda Indonesia.

“Anak dan perempuan adalah aset bagi pembangunan nasional. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melakukan beberapa strategi untuk melindungi para calon pemimpin masa depan, diantaranya dengan membuat sistem peradilan pidana anak, UU Perlindungan Anak, dan UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga.” ujar Menteri Yohana, Copenhagen, rabu, (18/05) 

Dalam forum tersebut, Menteri Yohana menjelaskan tentang program pemerintah untuk perlindungan anak diantaranya, yakni (1) Menciptakan Sekolah Ramah Anak untuk mencegah kekerasan terhadap anak; (2)​ Mencanangkan program wajib belajar 12 tahun; (3) Menghentikan pernikahan dini dengan cara mengubah pola pikir para orangtua, tokoh adat, dan tokoh agama dengan cara turun langsung hingga ke desa karena kerap kali seorang anak dipaksa menikah karena alasan ekonomi​ serta membentuk Forum Anak guna mengedukasi anak-anak; (4) Mencanangkan program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA); dan (5) Program Keluarga Berencana yang menjadi fokus pemerintah untuk membentuk keluarga berkualitas. Menteri Yohana mengakui tantangan berat yang dihadapi saat ini adalah narkoba dan pornografi yang masih menempati peringkat tertinggi kejahatan di Indonesia. (IV)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here