Kongres VII LMND dan 17 Tahun Reformasi 1998

Radarkotanews – Ditengah perkembangan situasi dunia yang belum keluar dari krisis ekonomi dan situasi nasional yang masih leluasa memberikan jalan terbuka bagi pasar bebas, kami dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) menyelenggarakan kongres Nasional ke VII di lampung Selatan. Pada hampir 70 tahun setelah Indonesi Merdeka, Cita-Cita untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia juga masih jauh dari harapan.

Cita-cita menjadi bangsa yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian secara budaya masih jauh dari realisasi. Kini, cita-cita tersebut saat ini malah dibajak oleh kekuatan Neoliberalisme yang memperosokkan kehidupan bangsa dalam jurang kehancuran tenaga produktif bangsa.
Sistem demokrasi yang mengakui rakyat sebagai pemegang kedaukatan semestinya mampu menjadi jalan bagi terwujudnya pemenuhan hak dasar rakyat menjadi jauh dari kenyataan.

Kongres Nasional ke VII Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) juga bertepatan dengan momentum 17 tahun Reformasi 1998 ingin menegaskan kembali cita-cita mewujudkan Indonesia yang bebas dari KKN dan menciptakan tatanan demokrasi yang tidak membatasi tumbuh kembangnya kekuatan rakyat dalam lapangan politik.

Cita-cita Reformasi Total untuk memberantas total Korupsi, Kolusi dan Nepotisme kini masih menjadi masalah besar bagi perkembangan demokrasi di negeri ini karena fakta yang kini terjadinya adalah semakin tumbuh kembangnya kekuatan oligarki yang membajak suara dengan kekuatan uang.

Pada Pembukaan Kongres VII LMND di Lampung Selatan pada 21 Mei 2015, juga dihadiri oleh berbagai organisasi pergerakan mahasiswa, buruh, tani dan rakyat miskin lainnya. Dalam pidato solidaritas perjuangan kepada Kongres VII LMND, organisasi-organisasi pergerakan menegaskan bahwa masalah yang menghambat terwujudnya keadilan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Organisasi-organiasi pergerakan yang hadir dalam Kongres VII LMND kali ini antara lain Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI), Serikat Mahasiswa Progresif Universitas Indonesia (SEMAR UI), PMII Lampung Selatan, Himpunan Mahasiswa Lampung Selatan (HIMMALS), DEMA STAI YASBA, BEM STIH Kalianda, GMBI, Serikat Hijau Indonesia (SHI) Lampung, FSBKU-KSN Lampung, Federasi Serikat Pekerja Aneka Sektor Indonesia (F-SPASI), Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI), Konferensi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI).

Selain itu, Kongres Nasional ke VII LMND juga dibacakan pesan solidaritas dari Ketua Umum LMND ke III (Iwan Dwi Laksono), Pembebasan dan pesan solidaritas dari Eksekutif Wilayah dan Eksekutif Kota LMND yang tidak bias hadir langsung di forum sidang Kongres VII LMND.

Dalam kesempatan pembukaan Kongres VII LMND ini, pimpinan organisasi pergerakan tersebut mengemukakan bahwa terdapat akar persoalan yang sama di lapangan perjuangan kaum mahasiswa, buruh, tani dan sector rakyat lainnya. Nuy Lestari dari SMI menyampaikan, bahwa liberalisasi di sector pendidikan memiliki akar yang sama dengan praktek liberalisasi yang terjadi di sector buruh yang diterapkan politik upah murah, system kerja kontrak dan oursourcing.

Sementara itu, SEMAR UI melalui perwakilannya, kawan Ririn, menegaskan bahwa liberalisasi pendidikan juga telah merusak tatanan demokrasi di dalam kehidupan kampus. Hal ini yang juga disimpulkan oleh kawan-kawan PEMBEBASAN yang dalam pesan solidaritasnya mendorong adanya penguatan konsolidasi gerakan mahasiswa yang berangkat dari pengalaman bersama LMND dan organisasi mahasiswa lainnya yang berjuang bersama-sama dalam wadah aliansi MASSA (Mahasiswa Bersatu) dan Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI).

Bagi LMND, menurut Ketua Panitia Kongres (Jami Kuna), penilaian atas situasi obejektif dan gerakaan saat ini, persatuan gerakan mahasiswa harus kita dorong bersama-sama menjadi basis kita untuk membangun persatuan mahasiswa nasional dalam bentuk KONFEDERASI mahasiswa Indonesia.
Pimpinan-pimpinan organisasi pergerakan rakyat lainnya menjelaskan bahwa kesadaran berjuangan rakyat saat ini harus terus kita wadahi dalam berbagai serikat rakyat.

Bung Hery Hermawan dari F-SPASI menyampaikan bahwa kaum buruh Indonesia kenyataannya dalam pemenuhan kehidupan sehari-hari banyak ditopang oleh kegiatan ekonomi di pasar-pasar rakyat yang ada di sekitar kawasan buruh.

Bung Joko dari FSBKU-KSN Lampung menyatakan bahwa saat ini muncul kesadaran baru di sector buruh bahwa tuntutan kesejahteraan kaum buruh juga sama dengan tuntutan dengan Mahasiswa yang menuntut pendidikan dan kesehatan yang gratis dan berkualitas.

Hal ini diamini oleh Bung Marlo Sitompul dari SPRI. Bug Marlo mengingatkan pesan dari tokoh gerakan rakyat, Wiji Thukul, bahwa untuk apa kawan-kawan memiliki ilmu yang tinggi jika hanya untuk membodohi.
Oleh karenanya, dalam Kongres Nasional ke VII LMND yang mengambil tema Belajar, Bersatu dan Berjuang untuk Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian ini, kami ingin menegaskan bahwa sudah saatnya gerakan mahasiswa berdiri dalam barisan rakyat tertindas lainnya. Kaum buruh, mahasiswa, tani dan sector rakyat lainnya harus mulai berpikir bersama-sama tentang wadah perjuangan yang mampu menjadi alat perjuangan bersama seluruh sector rakyat yang berlawan.

Demikian menurut Anwar Sastro Ma’ruf dari KPRI dalam pidato terakhirnya di Kongres Nasional ke VII LMND. Alat perjuangan berbagai sector rakyat tersebut bukanlah sekedar aliansi taktis yang sifatnya momentum, akan tetapi alat perjuangan bersama tersebut harus mampu menjadi alat bagi rakyat jangka panjang dalam merubah tatanan masyarakat yang menindas.”Demikian isi siaran pers yang kirim redaksi Radarkotanews.com.
 
Jami Kuna
Ketua Panitia Kongres VII LMND
081244500504.