KH. Zaitun Minta Pasal Penodaan Agama Diterapkan Bukan Pasal Penodaan Golongan

RadarKotaNews – GNPF belum nutupi masalah penistaan agama alias Ahok, untuk itu disini akan kita bacakan tuntutan tentang Ahok melanggar pasal 165A, Ahok mengatakan tidak melakukan kesalahan apapun.

“Jangankan pernyataan di Pulau Seribu sangat berpotensi memecah belah negara Republik Indonesia, tetapi apa yang kita lihat menggegerakan negara ini, tetapi kenyataan tuntutan itu menuntun dibubarkan MUI,”ujar KH. Muh. Zaitun Rasmin saat menggelar Konferensi Perss yang bertajuk “Info Aksi Simpatik 55 Serta Pernyataan Sikap GNPF MUI atas Persidangan Penodaan Agama”.di AQL Islamic Center, Tebet, jakarta, Selasa (02/05).

Menurut dia, yang menyatakan bahwa Ahok melakukan penistaan agama, alat ini menjadi bukti yang falid bahwa peristiwa itu betul penodaan agama oleh Ahok. Karena Fatwa MUI mengganggap tidak akurat alias bohong atas penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok itu atas tuntutan Jaksa Penuntun Umum.

Kita hubungkan peristiwa dengan tuntutan, Ahok tidak mengatakan golongan yang membohongi menggunakan surat Almaidah 51. Ini jelas mengatakan berkali – kali di Nasdem dan diberbagai tempat golongan mana yang dinodakan ini jelas harus dijelaskan kepada penuntut umum, kita akan melakukan protes terhadap penistaan agama untuk tidak memilih orang kafir untuk menjadi pemimpin yang dilakukan oleh umat Islam.

“Tujuan kami adalah bahwa pasal penodaan agama itu harus diterapkan bahwa terbukti berdasarkan keterangan saksi keterangan bukti, kita akan mencari mendatangi semua pihak mengetuk hati mereka supaya terbuka mata hati mereka.”terang KH. Zaitun.

Ia menilai, jika hal ini tidak dituntut maka akan muncul penodaan-penodaan agama Islam lainnya, pasal 28 ayat E bahwa penuntutan bisa dilakukan dengan demonstrasi dan unjuk rasa itu yang kami lakukan. Sebab kata dia, Siapapun yang melarang orang demonstrasi dengan kekerasan maka dia wajib dipenjara karena masuk dalam kekerasan, kami datang dengan damai kami datang dengan UU untuk damai, untuk itu kami menolak tegas.

“Kami juga meminta pasal penodaan agama untuk diterapkan bukan pasal penodaan golongan.”tegasnya.

Kami telah membuktikan aksi yang kami bangun tidak pernah dengan kekerasan kami tidak pernah bakar – bakaran karena kita cinta negeri ini karena Allah menciptakan tangan kami untuk mencintai, kami tidak seperti malin kundang.

“Kami melakukan aksi kawal dan meminta majelis hakim supaya tidak terinterfensi dari bisikan lainnya itu harus diputus dengan pasal yang semestinya.”tuksnya. (WaWaN)