Beranda Politik Kembali Jati Diri Bangsa ke Khittah 1928

Kembali Jati Diri Bangsa ke Khittah 1928

0
BERBAGI

Jakarta – Kalangan pemuda memandang semangat persatuan dan ke Indonesia-an saat itu semakin relevan di tengah ketegangan masyarakat karena rangkaian politik praktis. Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) Abdul Ghopur menilai problem Indonesia sesungguhnya adalah keberlangsungan manajemen negara pascakolonial yang tak mampu menegakkan kedaulatan hukum, tidak mampu memberikan keamanan dan keadilan bagi warganya.

“Di samping itu kita juga belum benar-benar siap menerima keragaman,” ungkap Ghopur.

Hal itu mengemuka dalam dialog dan rapat pemuda, serta konferensi pers yang bertajuk nasionalisme dan kembali ke jati diri bangsa, dengan tema “KEMBALI KE KHITTAH 1928”. Dialog itu dimaksudkan untuk “Meneguhkan Komitmen Bhineka Tunggal Ika serta Mewujudkan Negara Amanat dan Cita-Cita Proklamasi 45 Demi Keutuhan Bangsa”, di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (2/11/2016).

Turut hadir beberapa unsur kepemudaan yang akan hadir dalam diskusi kali ini adalah perwakilan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), mantan aktivis 98, Generasi Muda Perhimpunan Indonesia Tionghoa (GEMA INTI), Gerakan Alam Pikir Indonesia (Gerak API), pemuda Kampung Sawah Bekasi, pemuda daerah, Anak Kandung Indonesia, dan delegasi ormas serta OKP lainnya.

Menurutnya, elemen pemuda Indonesia kini perlu kembali mengingatkan masyarakat secara umum yang lupa atau mengabaikan semangat Sumpah Pemuda 1928 dan nilai-nilai persatuan serta perbaikan bangsa ke depan melalui Proklamasi 1945 pendiri bangsa. Bagi dia, para pemuda saat ini perlu bersumpah meneguhkan peristiwa “Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928” sebagai tonggak bersejarah yang wajib dihormati, diniati kembali serta ditanamkan kembali dalam sanubari, diteladani dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Bersumpah menegakkan, mewujudkan dan mengamalkan negara amanat dan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, Pancasila, UUD’45 dan NKRI sebagai harga mati,” jelasnya.

Selanjutnya, tambah Ghopur, bersumpah bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah fakta sejarah bangsa Indonesia yang tidak dapat diingkari dan wajib dijaga dan rawat, sekaligus menolak segala bentuk radikalisme dan paham yang bereberangan dengan Pancasila. Selain itu, kata dia, bersumpah bahwa tidak akan pernah sedikit pun mengkhianati dasar negara dan cita-cita luhur para pendiri bangsa yang telah gugur menumpahkan darah, jiwa dan raga demi kemerdekaan Republik Indonesia.

“Bersumpah bahwa dengan “KHITTAH 1928” ini, kami sebagai pemuda generasi penerus dan pelurus amanat dan cita-cita perjuangan pendiri bangsa akan setia pada Pancasila, Proklamasi 17 Agustus 1945, Khittah UUD’45 dan NKRI,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here