Beranda Hukum Kejaksaan Terkesan Main Pesanan Politik

Kejaksaan Terkesan Main Pesanan Politik

0
BERBAGI

Radarkotanews.com – Penyidikan kasus dugaan korupsi atas pembelian aset oleh Victoria Securities Internasional Corporation (VSIC) dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) oleh tim Satgasus Kejaksaan Agung, terus menuai polemik.

Menurut Pengamat sekaligus Direktur Center of Budget Analysis (CBA)
Uchok Sky Khadafi, penggeledahan yang dilakukan Kejaksaan terhadap PT
Victoria Sekuritas terkait penjualan hak tagih atau pengalihan piutang (cassie) BPPN terkesan ada pesanan dari pihak-pihak tertentu kepada Kejakasaan.

Sebab banyak perusahaan yang membeli aset dari BPPN saat itu, kenapa hanya PT Victoria Sekuritas Indonesia yang diungkap ke publik.

“Kejaksaan sedang main pesanan politik,” kata Uchok saat dihubungi,
Jumat (28/08/2015).

Uchok yang juga eks Koordinatoer Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) itu mengatakan, jika Kejaksaan sungguh-sungguh berniat mengusut tuntas kasus Korupsi di negara ini, mengapa hanya PT Victoria Sekuritas saja, dalam kasus yang sama ada 48 PT yang juga bermasalah.

“Jangan hanya Victoria Sekuritas saja, ada 48 PT dengan potensis kerugian Negara sebesar Rp 144 triliun, dituntaskan juga dong.”

Kejaksaan pun dianggap ‘Ngawur’ dalam mengusut kasus penjualan hak tagih itu. Sebab, Kejaksaan seharusnya memanggil pihak Bank Indonesia terlebih dahulu. Bukan PT Victoria Sekuritas Indonesia langsung.

“Harusnya panggil BI dahulu, BPPN, baru PT Victoria Sekuritas Indonesia. Kejaksaan ngawur.”

Sementara itu, menurut pengamat politik The Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo meminta Kejaksaan Agung untuk tidak melakukan diskriminasi dalam kasus ini.

“Banyak perusahaan yang membeli aset dari BPPN saat itu, kenapa hanya PT Victoria Sekuritas Indonesia yang diungkap ke publik?,” kata
Karyono saat dihubungi.

Dia meminta Tim Satgasus perlu hati-hati sebelum melakukan tindakan hukum terhadap siapapun, termasuk dalam menangani perkara VSI.

Menurut Karyono, penegak hukum harus menggunakan azas prudensial (kehati-hatian) dalam menangani suatu perkara, tidak bisa dengan cara serampangan. Kedudukan perkaranya mesti jelas, bukti-buktinya juga harus kuat agar tidak menimbulkan masalah ke depannya.

“Pertanyaanya jangan diskriminasi dong, jadi kalau mau menegakan mengedepankan prinsip keadilan, hukum tanpa diskriminasi, tanpa kriminalisasi baru saya dukung,” kata dia.

“Dalam kasus ini, perlu diperiksa juga peran BPPN, sejauh mana. Nah itu kan terjadi 2003 di mana Kepala BPPN Syarifuddin Tumenggung menjabat. Itu bisa dihadirkan untuk diperiksa, sehingga persoalan jadi jelas. ini kan masih belum, saya kira kehadiran dan diperiksanya Syarifuddin jadi kunci untuk mendudukan persoalan ini jadi jelas,”
kata dia.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung diduga salah alamat saat melakukan
penggeledahan ke kantor PT Victoria Investama (VI) dan PT Victoria
Sekuritas Indonesia (VSI).

Seharusnya Satgasus Kejagung menyasar Victoria Securities Internasional Corporation (VSIC). VSIC merupakan perusahaan yang pernah membeli cessie milik PT Adistra Utama dari BPPN pada 1998 lalu. Saat itu, cessie PT Aditra dilelang oleh BPPN karena perusahaan tersebut tidak sanggup membayar hutangnya kepada Bank Tabungan Negara (BTN) sebesar Rp 469 miliar.

Ketika PT Adyaesta Tiptatama Group (AG) ingin menebus cessie miliknya
dengan harga yang sama di kemudian hari, VSIC pun menolak. Perusahaan
sekuritas tersebut memasang harga Rp 2,1 triliun agar cessie PT Adyaesta Tiptatama Group (AG) dapat dikembalikan.

Karena pelunasan cessie terhalang, maka PT Adyaesta Tiptatama Group
(AG) melaporkan tindakan VSIC ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pada
2012 silam. PT Adyaesta Tiptatama Group (AG) menduga ada praktik korupsi yang dilakukan oknum BPPN dengan VSIC saat mengalihkan cessie
milik mereka.

Setelah pengusutan berhenti cukup lama, Kejagung sejak Mei lalu pun
mengambil alih perkara dugaan korupsi dalam penjualan cessie oleh BPPN. Penggeledahan pun dilakukan di VSIC sebagai tindak lanjut pengusutan perkara tersebut.” (saa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here