Jokowi Tidak Mengerti Masalah Geopolitik

Radarkotanews.com – Amerika akhir-akhir ini cemas dengan kekuatan militer negeri bambu Tiongkok (cina). Cina semakin kokoh sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia, akan mempengaruhi politik, ekonomi dan keamanan, yang otomatis akan mengimbangi hegemoni AS. Direktur Global Future Institute Hendrajit, mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) yang berkuasa dibelakang layar, bisa juga disebut VOC gaya baru seperti Cevron, freeport dll.

“Sam Ratulangi ahli geopolitik mengatakan bahwa kita selalu menjadi elemen pasif dalam pertarungan di asia pasifik,” ucap Hendrajit sewaktu diskusi yang bertajuk “Kompetisi China dan Amerika di Asia Pasifik” di sekretarian Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK) kawasan Tebet Jakarta. (9/6/2015).

Hendrajit juga mengingatkan kepada pemimpin negara ini agar mencerna perkataan Bung karno saat pembukaan KAA yang mengisyaratkan bahwa asia pasifik adalah jalur sutra.

“Siapapun Presidenya di AS, doktrin dasarnya adalah penguasaan daerah-daerah yang dilewati jalur sutra itu (jalur laut),” tuturnya.

Lanjut Hendrajid, sekarang ini Cina juga memakai doktrin menguasai secara goepolitik di Laut Cina selatan dan Selat Malaka.

“Jokowi itu tidak mengerti masalah geopolitik. Cina menggunakan Near militer untuk menguasai dan membantu ekonomi dan sudah punya akses mudah ke pelabuhan,” tandasnya.

Menurut hendrajit, Vladimir Putin yang kembangkan proyek unggulan dan memperdayakan ekonomi di kawasan timur di seberia yang dulunya dibelakang, jadi istilanya membalik halaman belakang menjadi halaman depan.

“Sedangkan Jokowi tidak menggunakan geopolitik sebagai dasar penyusunan rencana strategis,” ucapnya.

Masih menurut hendrajid, Jokowi tidak memahami jiwa Asia-Afrika yang dibangun Bung Karno. Jokowi harus bikin lakon dulu dalam kontek Asia-Afrika tentang anti imprialisme kolonilisme.

“Kesepakatan Jokowi dengan Cina ibarat keluar mulut macan masuk mulut buaya,” pungkasnya.