Beranda Opini Infrastruktur Akhir Jaman

Infrastruktur Akhir Jaman

0
BERBAGI

 

Oleh : Salamuddin Daeng.
Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di
negeri-negeri lain. (QS. Al Fajr, 89: 6-8)

Masalah terbesar yang dihadapi umat manusia sekarang ini adalah bukan kelangkaan infrastruktur, namun adanya upaya peningkatan level krisis keuangan dengan menggunakan mega proyek infrastruktur.

Pembangunan infrastruktur dewasa ini semakin marak, tidak hanya di Indonesia, namun di seluruh penjuru dunia, tidak hanya di negara negara industri maju, namun juga di negara negara berkembang, negara miskin dan negara paling miskin.

Berbagai project infrastruktur seperti pelabuhan, airport, kereta cepat, tol tol, telekomonikasi, bahkan fasiltas ekspedisi luar angkasa. McKinsey dalam study di bulan June 2016 diperkirakan sekitar US$3.3 trillion atau sekitar Rp. 44.550 triliun yang diperlukan dalam investasi infrastruktur hingga 2030 untuk mendorong pertumbuhan.

Anehnya pembangunan infrastruktur ini terjadi ditengah krisis ekonomi global, penduduk miskin di dunia bertambah semakin pesat, pengangguran semakin luas, daya beli sebagian besar penduduk dunia merosot, negara negara menghadapi masalah utang yang sangat besar. Demikian juga dengan perusahaan perusahaan mengahadapi utang yang sangat besar.

Utang global yang terbentuk sampai dengan saat ini mencapai USD 130 triliun, atau mecapai rata rata 220 % dari Gross Domestic Produk (GDP) yang saat ini hanya sebesar USD 60 triliun dolar .

Namun pembangunan infrastruktur terus di dorong, pembangunan property semakin merajalela, sumber dananya dari mana ? dari utang yang sangat besar. Pembangunan infrastruktur dijadikan sebagai landasan
menciptakan pasar utang, menciptakan ruang bagi pasar investasi, menciptakan pasar bagi barang dan jasa jasa yang berlebih.

Pembangunan mega proyek Infrastuktur, property, diibaratkan membangun mall mewah ditengah pemukiman kaum miskin. Pembangunan ini sama sekali tidak mengharapkan orang miskin akan membelanjakan uangnya untuk membeli tas tas bernilai ratusan juta sepertui Gadino Bag, Louis Vuitton, sepatu sepatu berharga miliaran rupiah seperti Air Jordan Silver Shoes, Testoni Dress Shoes, dan benda benda mahal lainnya.

Pembangunan infrastruktur hanya membangun bangunan untuk permainan pasar keuangan yang saat ini telah bernilai USD 600 triliun atau 6 kali lebih besar dari PDB Global. Infrasrtuktur untuk bermain main di pasar keuangan.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here