BERBAGI

RadarKotaNews – Besar pasak daripada tiang. Begitulah situasi negara saat ini, setelah Presiden Joko Widodo mengevaluasi pembangunan infrastruktur yang menguras uang negara. Sebab bahan baku yang di import, akan mengakibatkan terkurasnya devisa negara.

Begitu di katakan Koordinator Aliansi Lembaga Analisis Kebijakan dan Anggaran (Alaska), Adri Zulpianto dalam pernyataannya kepada awak media, Jumat (3/8/18).

“Apalagi nilai ekspor tidak mampu mengantisipasi ancaman defisitnya devisa negara,” kata dia.

Selain itu, dirinya meyakini jika berbagai proyek infrastruktur yang menjadi primadona Jokowi, dalam keadaan terancam mangkrak akibat kebijakan bekas Gubernur DKI Jakarta itu, yang akan mengevaluasi proyek infrastruktur ditengah ancaman defisit devisa negara, yang terus mengalami trend negatif di semester pertama tahun 2018 .

Sebab, kebijakan Jokowi yang mengevakuasi proyek infrastruktur juga akan menghentikan beban import bahan baku pembangunan infrastruktur. “Itu dilakukan karena kepanikan pemerintah atas ulahnya.”

Pemberhentian terhadap import bahan baku pembangunan infrastruktur jelas akan mengancam pembangunan infrastruktur itu sendiri, karena sebagian besar bahan baku masih di import dari luar negeri.

“Alaska menilai, jika import bahan baku dibatasi, maka pembangunan infrastruktur akan mangkrak, dan mundur dari target penyelesaian,” kata dia.

Mundurnya target penyelesaian pembangunan infrastruktur jelas akan membebani biaya pengerjaan. Untuk menanggulangi biaya pengerjaan tersebut, mau tidak mau, pemerintah akan memberhentikan pembangunan infrastruktur menunggu hingga dolar kembali stabil, atau menunggu sampai devisa negara mampu kembali meroket.

“Selain itu, negara tidak cukup siap untuk melakukan ekspor guna menekan trend negatif devisa negara. Karena sedikitnya pangsa pasar dalam negeri yang mampu melakukan ekspor,” kata dia.

Menurutnya, yang perlu diperhatikan sejauh ini, pengusaha sudah banyak yang gulung tikar, karena ketidakstabilan ekonomi dunia. Apabila keadaan tersebut ditambah dengan pembatasan import, maka industri yang membutuhkan bahan baku dari luar negeri pun akan menjadikan kondisi industri dalam negeri tambah nelangsa.

Melemahnya industri dalam negeri akan membuat para pembeli untuk memilih menabungkan uangnya di bank, ketimbang belanja di tengah pusaran dolar yang terus beranjak naik.

Kendati demikian, Alaska menilai bahwa Kebijakan penghentian import akan menguntungkan negara, karena dolar akan digiring masuk ke Indonesia melalui eksport.

“Tapi resikonya dalam negeri adalah melemahnya industri dalam negeri. Sehingga, infrastruktur kemudian terabaikan, dan pemerintah akan fokus untuk menarik dolar ke dalam negeri guna menutup semua kerugian yang timbul akibat pembatasan import,” kata dia.

“PLN misalnya, kerugian akan meroket karena Batu bara yang mengalami perubahan harga demi menggenjot eksport.” (meli)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here