Beranda Hukum Imparsial: Konflik Papua Karena Masalah Pelanggaran HAM dan Marjinalisasi

Imparsial: Konflik Papua Karena Masalah Pelanggaran HAM dan Marjinalisasi

0
BERBAGI

RadarKotaNews – Direktur Imparsial, Al Araf menanggapi pembantaian sejumlah pekerja pembangunan jembatan di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga Papua. Menurut dia, Indonesia sudah pernah punya pengalaman berhasil. Salah satu contoh saat menyelesaikan konflik di Aceh melalui ruang negosiasi dan dialog.

Karena itu Al Araf mengatakan, semestinya pemerintah mulai melakukan pendekatan dialog dengan masyarakat Papua. Sebab, kata dia, penyelesaian masalah Papua tak cukup dengan pendekatan ekonomi seperti yang saat ini sedang dilakukan pemerintah.

“Konflik di Papua terjadi juga karena masalah pelanggaran HAM, marjinalisasi masyarakat Papua, dan faktor historis,” kata Al Araf Saat diskusi dengan mengangkat tema “Menyikapi Konflik dan Kekerasan di Papua” yang di gelar di Kantor Imparsial Jalan Tebet Dalam, Jakarta Selatan, kamis (6/12/18)

Sambung dia, Hal itu pernah dilakukan di era kepresidenan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Misalkan pola pendekatannya (era Gus Dur) tidak hanya ekonomi. Tetapi, melakukan recognize terhadap masayarakat Papua, Meminta maaf atas operasi militer yang berlangsung lama di Papua, mengubah nama provinsi menjadi Papua, dan lain sebagainya.

Dengan pendekatan kultural itu masyarakat Papua merasa Abdurrahman Wahid punya kepedulian dan benar-benar menghormati mereka. Setelah Abudrrahman Wahid, pendekatan yang dilakukan polanya cenderung developmentalisme.

Pembunuhan sadis dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Nduga, Papua terhadap pekerja PT Istaka Karya. Diduga, sebanyak 31 pekerja tewas. Mereka bekerja untuk membuka isolasi di wilayah pegunungan tengah. Lokasinya jauh dari ibukota Nduga dan Kabupaten Jayawijaya yang terdekat dari wilayah pembangunan jembatan.

Menurut Al Araf bahwa informasi yang diterima dari berbagai sumber, para pekerja pembangunan jembatan itu diduga dibunuh lantaran mengambil foto pada saat perayaan HUT Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) oleh KKB tak jauh dari lokasi kejadian.

Masih kata Al Araf, Saat salah satu pekerja mengambil foto, hal itu kemudian diketahui oleh kelompok KKB. Hal itu membuat mereka marah dan mencari orang yang mengambil foto hingga berimbas kepada pekerja lainnya yang ada di kamp pembangunan jembatan.(adrian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here