Beranda Suara Rakyat IMM: Pilihan Kebenaran

IMM: Pilihan Kebenaran

0
BERBAGI

Oleh: Hikmatullah

Jalan mu terjal, tidak monolit dan tidak bisa di prediksi secara matematis.
Heyy kau politik!
Haruskah kau membela moralitas demokrasi dengan cara mu sendiri?

Negara ini tidak bisa dipimpin oleh kebohongan. Sekali kita menggunakan kebohongan sebagai cara meraih kekuasaan, maka manipulasi dan destruksi menjadi tak terelakan dalam praktik kepemimpinan. Hasil akhir dari tindakan kebohongan ini adalah pembodohan dan pengabaian terhadap rakyat secara berkelanjutan.

Demokrasi sejati menghendaki prosesi pemilihan pemimpin sebagai ikhtiar untuk mempromosikan kebenaran. Ditilik dari suatu perspektif, kebenaran tak lain adalah ketidaktertutupan. Itulah sebabnya mengapa asas fairness, kejujuran dan keterbukaan mendarahi seluruh prosesi pemilihan.

Mengutip dari pernyataan Yudi Latief, bahwa masalah kebebalan otak dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara boleh jadi karena kehidupan politik dan kebudayaan diwarnai oleh surplus kegaduhan dan defisit kesunyian.

Demokrasi hanya dirayakan dengan pesta jor-joran, tetapi miskin substansi dan refleksi. Budaya dipadati oleh tontonan ingar-bingar dengan kedangkalan sensitivitas etis dan budi.

Agama pun di ekspresikan dalam kegaduhan yang menyerang, miskin perenungan dan rasa kemanusiaan.

Ekspresi kebangsaan yang dangkal dan menyerang seperti inilah yang dulu dikhawatirkan oleh H. Agus Salim.

Dalam konstelasi politik pun, Menjadi Presiden dan Wakil Presiden bukan sekedar impian dengan berbekal modal manipulasi pencitraan dan komedi omong kosong, tetapi memerlukan kemampuan kualitatif yang tercermin dalam visi yang terang dan konsep yang matang.

Visi dan konsep inilah yang akan menentukan arah perjalanan bangsa dalam lima tahun mendatang.

Selain kondisi jasmani-rohani capres-cawapres yang harus diperiksa, sumber pendanaan kampanye harus di audit, tim kampanye harus diverifikasi, informasi daftar pemilih, lembaga survei dan penyiaran harus bisa di cek, lembaga pemilihan pun harus bisa diawasi kebenarannya. Itulah alasan kenapa dimasa kampanye diperlukan perdebatan, selain untuk menguji kebenaran penyelenggara pemilihan juga untuk menguji visi-misi kandidat dalam debat publik.

Namun, betapapun berlangsungnya acara perdebatan sejauh ini belum mampu memuaskan kehendak publik. Kesempatan tersebut hanya memberi ruang bagi kandidat untuk saling mempromosikan, sementara publik nyaris tak dilibatkan. Hal ini akan memberi celah bagi kandidat untuk memanipulasi atau mengumbar janji tanpa keseriusan pemikiran, dan bagi publik pemilih akan menyulitkan untuk mengukur kualitas dan kesungguhan masing-masing kandidat.

Meskipun demikian, semua akumulasi pengetahuan dan pembelajaran dalam penyempurnaan demokrasi ini hanya bernilai sejauh mana ada jaminan kebenaran (ketidaktertutupan) dari institusi penyelenggara KPU dan BAWASLU.

Kejujuran dan keadilan lembaga-lembaga tersebutlah yang akan menentukan nilai terakhir dari segala jerih payah pesta pemilihan. Ditangan merekalah hitam-putihnya masa depan demokrasi dipertaruhkan.

Selamat memilih.

Penulis adalah Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jakarta (IMM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here