Beranda Suara Rakyat Gerakan Moral Mendukung KPK Memberantas Korupsi Tampa Tebang Pilih

Gerakan Moral Mendukung KPK Memberantas Korupsi Tampa Tebang Pilih

0
BERBAGI

Study kasus Korupsi BAKAMLA dengan TSK Fayakhun Andriandi

Oleh: Rahman Latuconsina, SH

KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan lembaga adhoc yang hari ini menjadi tumpuan seluruh Masyarakat Indonesia terkait dengan pemberantasan Tindak Pinda Korupsi.

Jika melihat sejarah berdirinya KPK, bahwa KPK hadir saat Negara dalam Kondisi galau yang luar biasa terkait dengan permasalahan “Korupsi di Indonesia”.

Lalu kemudian akan muncul pertanyaan yang hampir pasti ada dalam benak semua orang:

Apa dengan hadirnya KPK, angka TIPIKOR menurun? atau bahkan punah???

Karena semangat berdirinya KPK saat itu adalah memberantas Korupsi secara Akuntabilitas, Profesional, Transparantif, Indeoenden, dan pastinya tidak TEBANG PILIH.

Hal ini juga mengingat status KPK sengai lembaga adhoc yang kapan saja bisa dibubarkan.

Realitas yang terjadi KPK memang masih ada di Hati untuk dicintai mayoritas Masyarakat Indonesia, seperti “CINTA TANPA SYARAT”.
Karena faktanya Kita harus terus mendukung dan mencintai KPK dengan segala “plus-minusnya”, dengan berbagai kekurangannya.

Suka atau tidak suka, ataupun secara tidak sadar Kita sering menggumam dalam Hati terkait penilaian Kita bahwa KPK masih tebang pilih, atau asumsi bahwa KPK hanya tajam ke bawah namun tumpul keatas, juga kerap Kita menuding KPK berpolitik atau yang kerap kali menjadi perdebatan di ruang publik, bahwa OTT atau pemberantasan Korupsi ala KPK by design, atau by atensi.
(Mungkin ini yang menjandi issue sentral terkait Evaluasi KPK pada momentum Hari Korupsi Dunia 9 Desember)

KORUPSI Project Satelit di BAKAMLA dengan TSK Fayakhun.

Dari awal Kasus ini bergulir ke ruang Publik, banyak kalangan menilai jika politisi muda Partai Golkar itu tidak mungkin mengendalikan ‘permainan’ ini seorang diri. Secara logika TSK Fayakhun belum mempunyai mental yang kuat untuk melakukan ini. Pasti ada support, juga ada garantie sehingga TSK mantap melakukan perbuatan melawan Hukum ini. Patut diperhatikan, TSK adalah kader muda di PG.
Kesimpulannya adalah bahwa, Korupsi BAKAMLA adalah: KORUPSI BERJAMA’AH, bahwa diduga TSK adalah tumbal dalam Kasus ini, bahwa KPK belum menyentuh Aktor Intelektual yang sesungguhnya dalam casse ini.

Pasca TSK Fayakhun, memberikan kesaksian dihadapan para Hakim Tipikor, maka perdebatan diruang Publik terjawab sudah. Namun hal tersebut tidak serta-merta menjadi babak akhir dari DRAMA KOLOSSAL berjudul “Korupsi BAKAMLA”.
Karena episode berikutnya justeru tidak kalah menarik.

Wacana terkait kesaksian TSK di Tipikor harus dijawab secara konkret oleh KPK. Bahwa ada pihak lain yang tak kalah penting perannya dalam Kasus ini, namun masih bebas diluar sana, bahwa ada ‘orang sakti/orang dekat istana’ yang menjadi mentor dalam Kasus ini, serta berbagai wacana lain yang sangat menyudutkan KPK.

Oke Kita sepakat bahwa ‘ruh‘ dari Hukum di Indonesia adalah PEMBUKTIAN, namun KPK berkewajiban mendalami kesaksian TSK untuk pengembangan Kasus ini secara khusus, serta secara umum sebagai pra-syarat pengajuan JC (Justice Colaboratore) TSK Fayakhun.

Serta yang terpenting adalah, KPK harus bisa mematahkan tesis yang berkembang diruang Publik, bahwa KPK enggan melangkah lebih jauh karena si A orang Istana, atau si B orang dari Partai yang berkuasa saat ini…

Karena jika wacana ini terus berkembang, maka KPK akan kehilangan wibawa-Nya sebagai Lembaga Anti Rasuah, terkikis marwah-Nya sebagai Lembaga “PEMBURU KORUPTOR DI INDONESIA”.

KITA CINTA KPK, KITA JAGA KPK, KITA EVALUASI KPK DEMI UNTUK MENJADIKAN KPK LEBIH BAIK LAGI DAN DEMI UNTUK MEMUSNAHKAN PARA KORUPTOR DI REPUBLIK YANG KITA CINTAI.

gerakan cinta KPK, pada peringatan “INTERNATIONAL CORUPTION DAY” insha Allah Senin 10 Desember 2018 di Gedung Merah Putih Kuningan-Jakarta.

ALIANSI MASYARAKAT CINTA KPK
(Inisiator Giat).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here