Beranda Ekonomi Firman Subagyo Ingatkan Enggartiasto Hati-Hati Bicara, Bisa Rugikan Jokowi

Firman Subagyo Ingatkan Enggartiasto Hati-Hati Bicara, Bisa Rugikan Jokowi

0
BERBAGI

RadarKotaNews – Pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto Lukita akhir-akhir ini menunjukan sikap bukan negarawan. Bahkan, pernyataannya justru membunuh karakter petani dan industri dalam negeri.

Demikian disampaikan mantan Pimpinan Komisi IV DPR RI, Firman Subagyo dalam keterangannya kepada redaksi, Minggu (13/1/18).

Firman yang saat ini duduk di Komisi II DPR mengatakan jika dirinya sangat kecewa dengan pernyataan-pernyataan Mendag, yang menyebut, garam lokal kalau dipakai untuk infus berbusa dan pasien bisa mati.

“Saya selaku wakil rakyat dan anak petani dari daerah pemilihan yang basisnya adalah pertanian perikanan dan garam, kecewa dengan pernyataan tersebut,” kata politisi Partai Golkar itu.

Tidak hanya itu, hari ini, lanjut Firman, di salah satu media cetak nasional, Mendag kembali membuat pernyataan kontroveri dengan menyebut, gula lokal kalau dipakai untuk membuat jenang dodol, dodolnya jamuran.

“Ini pernyataan yang menyesatkan, tanpa ada penjelasan secara lugas apa sebab-sebabnya,” kata Firman.

Sebagai pejabat pemerintah, Mendag harusnya melindungi dan mendukung kreatifitas masyarakat petani dan industri, kususnya UKM dalam negeri. Bukan justru melemahkan dan tidak memberikan dukungan, semangat pada masyarakat, kususnya petani tebu, garam dan industri dalam negeri, seperti UKM.

“Sebagai mantan pimpinan Komisi IV, dan anggota DPR yang membidangi pertanian, saya sangat kecewa terhadap pernyataan Menteri perdagangan Engartiasto. Itu sepeti pernyataan pedagang yang hanya bicara untung dan rugi.”

Firman berpendapat, apa yang disampaikan Mendag, menunjukan hanya untuk mencari pembernaran, agar impor-impor itu dihalalkan, dan jadi penbenaran. Tetapi, lanjutnya, mafia-mafia importir yang diuntungkan dan menari di atas kesengsaraan rakyat.

Apalagi, pernyataan Mendag tanpa didasari penjelasan hasil kajian akademis, yang bisa dipertanggung jawabkan.

“Itu sebagai penjabat pemerintah akan sangat menyesatkan dan membunuh karanter petani, dan industri dalam negeri.”

Firman mengakui, memang ada industri gula dalam negeri yang kadar kebersihan maximal 200 harusnya, tidak terpenuhi. Namun, setelah Firman melakukan kroscek kepada pengurus dan anggota APTRI, itu adalah hasil produksi gula PTPN BUMN.

Namun, dirinya membantah kalau semua dodol dikatakan menggunakan bahan baku gula dalam negeri jamuran. Menurutnya, justru jenang Kudus tidak pernah menggunakan raw sugar.

Justru, dodol Kudus selalu menggunakan gula lokal produksi pabrik gula Trangkil, di Kabupaten Pati dan menolak menggunakan gula inport/raw sugar.

“Jadi sebagai pejabat pemerintah harus hati-hati untuk membuat pernyataan kepada publik yang bisa menyesatkan kalau penjelasnnya tidak clear,” kata Firman.

“Sepeti kita ketehahui bersama bahwa dari rezim ke rezim, komonditi pangan selalu menjadi mainan mafia pangan dan para importir yang terkenal dengan istilah 9 samurai, atau istilah 9 naga,” katanya.

Oleh karena itu, semangat penerintah harus dibalik bagaimana memperbaiki pruduk industri dalam negerinya, bukan jutru membunuh semangat dan katanter petani dan industri dalam negeri itu sendiri, dan itu menyesatkan.

Untuk itu, Firman meminya tahun politik, para pejabat pemerintah sebaiknya jangam asal mebuat pernyataan yang tidak populer.

“Dan saya sebagai kader dari partai pedukung pemerintah sangat kecewa dengan pernyataan seperti ini, yang justru akan merugikan posisi Pak Jokowi sebagai calon presiden incumben.”

Firman juga mengingatkan hati dalam berbicara dan jangam membuat kegaduhan di masyarakat kususnya petani dan industri. (meli)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here