Beranda Ekonomi Keimanan Selayaknya Menjadi Indikator Kesuksesan Ekonomi, Hukum dan Politik

Keimanan Selayaknya Menjadi Indikator Kesuksesan Ekonomi, Hukum dan Politik

31
0
BERBAGI

RadarKotaNews – Ketua Badan Amil Zakat Nasional/Baznas, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin MS.c, mengatakan bahwa sudah sepatutnya upaya-upaya menghidupkan dan meningkatkan keimanan menjadi perhatian yang tak kalah penting dari kerja-kerja pemberantasan kemiskinan.

“Keimanan selayaknya menjadi indikator kesuksesan ekonomi, hukum dan politik.”kata Didin saat menghadiri Kongres Alumni 212 yang bertajuk “Pererat Ukhuwah Menuju Mebangkitan Islam Indonesia” yang diselenggarakan oleh Presidium Alumni 212, di Wisma PHI Cempaka Putih, Jakarta pusat, Jum’at (01/12).

Sambung dia, Karena memang variabel keimanan menjadi variabel independen yang paling krusial bagi pencapaian target dan kualitas bagi ekonomi, sebab kata dia, hukum dan politik Intinya, kualitas hidup akan semakin baik jika manusia dalam kehidupannya betul-betul tidak pernah melepaskan diri dari penghambaan pada Allah, baik itu pada ekonomi, hukum, politik atau aspek hidup lainnya.

“Keimanan merefleksikan ikatan manusia dan Allah. Islam memandang ekonomi sebagai perkara serius karena Islam menilai bahawa harta itu sendiri meruapakan salah satu daripada lima keperluan asas dalam kehidupan.”katanya

Dirinya mengungkapkan, Lima keperluan asas itu ialah: Agama, Jiwa, Akal, Nasab Keturunan dan Harta. Inilah lima perkara asas yang tidak boleh dilengahkan oleh manusia. Sebab melengahkan perkara sedemikian membahayakan diri sendiri.

Begitu pula, politik tidak boleh terpisah daripada akhlak. Islam tidak membenarkan berlakunya sebarang cara kotor dalam permainan politik Konsep Machiavelisme yang menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan merupakan konsep yang bercanggah dengan konsep Islam. Sebab Islam tidak rela seorang

“Muslim mencapai tujuan-tujuan mulia kecuali dengan cara dan sarana yang bersih pula. Senjata-senjata kotor yang digunakan dalam politik sperti rasuah, wanita, penindasan, menggunakan orang-orang yang naif dan daif untuk kepentingan politik adalah tidak dibenarkan oleh Islam.”katanya.

Disin, menilai keuangan di Indonesia secara mayoritas masih dikuasai asing. Karenanya, kehadiran Koperasi Syariah 212 bisa menjadi langkah awal terbangunnya lembaga keuangan syariah.

“Koperasi Syariah 212 ini dari umat, oleh umat, dan untuk umat, semoga bisa membangun lembaga keuangan syariah di Indonesia. Ratusan juta umat Islam selama ini seakan telah terbiasa menggunakan belasan jam sehari untuk bekerja, melalui cara-cara kapitalis.”terangnya.

Untuk itu, Syafii mengajak segenap umat Islam, guna menjadikan kehadiran Koperasi Syariah 212 sebagai momentum kembali ke cara-cara syariah. Sebab kata dia kepemilikan umat di Indonesia terbilang masih sangat kecil, sedangkan potensi daya beli umat Islam di Indonesia sangat besar.

“Maka itu, cara-cara syariah seharusnya sudah bisa diterapkan, mengingat tidak ada satu orang pun bisa menjadi konglomerat tanpa konsumsi umat. itu membutuhkan kompetensi bersama-sama, memerlukan gerakan ekonomi berjamaah.”tukasnya.(Wawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here