Blok Masela Lebih Bermanfaat Jika Di Kelola Di Darat

Jakarta, Radarkotanews.com – Pembangunan kilang Blok Masela, apakah di darat (onshore) atau di laut (offshore). Dua pilihan tersebut, kemudian menimbulkan polemik antara dua menteri kabinet, yakni Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman, Rizal Ramli, dan Menteri ESDM, Sudirman Said.

Hal ini di ungkapkan oleh Dr. Dradjad Wibowo, Ekonom dari Sustainable Development Indonesia (SDI) dalam diskusi di bilangan Cikini jakarta pusat, sabtu (05/03/2016).

Sambung Dradjad, Jika dilihat dari sisi teknis, ada tiga alasan pembangunan kilang gas Blok Masela di darat dinilai lebih menguntungkan ketimbang di laut.

Pertama, apakah benar biaya investasi pembangunan kilang di laut lebih murah hanya sebesar US$ 14,8 miliar dibandingkan di darat sebesar US$ 19,3 miliar? Bagaimana kalau terjadi pembengkakan dari anggaran daria US$ 14,8 miliar? Siapa yang tanggung jawab, apa pemegang konsensi atau pemerintah? apa yang disampaikan Inpex dan Shell tidak rasional. Blok gas lepas pantai yang dikerjakan oleh Australia dengan sumber gasnya hanya setengahnya dari Blok Masela hanya menelan investasi US$ 12 miliar.
 Diklaim konsultannya Inpex biaya bangun di lepas pantai US$14,8 miliar, padahal cadangan gasnya lebih banyak dua kali lipat dari pada milik Australia, apa kita percaya dengan angka itu? Kan tidak rasional.

Kedua, katannya apakah Indonesia mempunyai kemampuan membangun kilang gas di laut. Menurutnya, kalau membangun kilat gas di darat, bangsa Indonesia sudah berpengalaman karena sudah membangun sekitar 11 kilang di darat.

Sementara, untuk di laut kita belum ada teknologinya dan belum terbukti. Memang, ada kilang yang dibangun di laut, yaitu di Prelude, Australia dan direncanakan selesai tahun 2027. Tetapi, kalau di Blok Masela jika terjadi masalah, siapa yang bertanggung jawab. Sampai saat ini belum ada pihak asuransi yang mau terlibat dan jika terjadi masalah, maka akan kembali ditanggung Negara.

Ketiga, lanjut dia, dilihat dari sisi manfaatnya. Jika pembangunan kilang di laut, maka manfaatnya untuk masyarakat Maluku sedikit. Sementara jika di bangun di darat, maka akan menimbulkan multiplier effect.

Kalau di darat, rakyat Maluku bisa membuat kos-kos atau kafe-kafe, membuat petrokimia hulu, menyerap banyak tenaga kerja, bisa membangun bandara, membangun properti dan pariwisata di daerah sekitar Blok Masela. Sementara jika bangun di laut, yang untung hanya kontraktor dan pemegang konsesi.pesan dia.

Dari segi keamanan, lingkungan, dan politik semua lebih aman didarat. Jadi tidak hanya untuk masela, dirinya melihat semua kecenderungan presiden dilakukan didarat. Jadi presiden lebih berpihak pada rakyat Maluku.

Ia menilai, Kecenderungan untuk arah PHK lebih kecil. Blok masela satu kekayaan dan manfaat terbesar dan akan lebih besar jika dikelola didarat. Jadikan blok masela sebagai moment yang menguntungkan masyarakat. Hitungan Australia tidak masuk akal. Hitungan didarat kecenderungannya bisa lebih murah hanya sekitar 16 milyaran.

Menurutnya, ada kompleksitas, pemda harus menyediakan lahan. Pemerintah pusat harus menentukan potensi-potensi yang potensial didaerah.

” Indonesia belum punya pengalaman dilaut, tapi terbiasa didarat.”(SA)