BERBAGI

RadarKotaNews – Perusahaan pelat merah Jasa Marga di tahun 2017 memperoleh pendapatan sebesar Rp 35.092.196.191.000, atau naik dari pendapatan di tahun sebelumnya, Rp 16.661.402.998.000.

Hal itu sebagaimana disampaikan Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman dalam keterangan, Jumat (6/4/18).

Namun, dirinya menyayangkan lantaran naiknya pendapatan ini dibarengi dengan lonjakan beban pengeluaran yang menjadi Rp 29.784.309.367.000 dari tahun sebelumnya senilai Rp 11.805.011.676.000.

“Meningkatnya pendapatan Jasa Marga menjadi berkah tersendiri bagi para pembesarnya, seperti dewan komisaris yang dipimpin Refly Harun. Ibaratnya, Refly dan kawan-kawan tinggal tidur nyenyak saja sambil kaki digoyang-goyang, tahu-tahu pendapatan Jasa Marga meningkat drastis,” kata Jajang.

Menurut Jajang, kinerja dewan komisaris padahal tidak terbilang wow. Sebab berdasarkan catatannya, di tahun 2017 tercatat melaksanakan kegiatan dalam bentuk rapat sejumlah 13 kali, dan kunjungan kerja sejumlah 10 kali ke cabang dan anak perusahaan. Sedangkan rapat dengan direksi dilakukan 14 kali.

“Paling tidak Refly Harun dan jajarannya dalam sebulan kerja dua kali dalam bentuk rapat, ditambah kunjungan ke cabang atau anak perusahaan sebulan sekali,” kata Jajang.

“Dengan kerjaan yang relatif longgar, Refly beserta komisaris lainnya diganjar imbalan sangat besar. Untuk uang transport misalnya Refly dan kolega bisa mendapatkan belasan juta, belum lagi pendapatan lain-lain,” ungkap Jajang.

Pendapatan lain yang dimaksud dirinya yakni, Refly mendapatkan honorarium sebesar Rp 72 juta dan untuk setahun bisa terkumpul sebesar Rp 864 juta. Selain itu ada juga uang transport yang didapatkan perbulannya sebesar Rp 14,4 juta dan untuk satu tahun sebesar Rp 172 juta.

Lanjut Jajang, Refly juga memperoleh gaji ke-13 alias THR sebesar Rp 72 juta. dan terakhir, berkat kenaikan laba Jasa Marga Refly mendapat bonus kerja atau tantiem sebesar Rp 1.042.758.620.

“Total pendapatan Refly Harun dari Jasa Marga sebesar Rp 2.151.558.620. Angka ini lebih besar jika dibandingkan pendapatan Refly di tahun sebelumnya senilai Rp 1.685.862.659. Berarti ada peningkatan pendapatan yang diperoleh Refly hampir setengah miliar,” ucap Jajang.

Sedangkan secara keseluruhan uang negara yang dihabiskan untuk dewan komisaris di tahun 2017 sebesar Rp 11.951.079.193, ada peningkatan sebesar Rp 1,2 miliar.

Namun dirinya menyayangkan, berkah yang diperoleh Refly Harun dan kawan-kawan di tahun 2017 berbanding terbalik dengan nasib ribuan karyawan Jasa Marga, paska diberlakukannya kebijakan E-Toll. Sedikitnya ada 1350 karyawan yang terkena dampak langsung.

“Bukan kenaikan pendapatan yang diperoleh ribuan karyawan yang kini pekerjaannya digantikan mesin, namun dua pilihan berat antara alih profesi ke anak usaha Jasa Marga itupun jika beruntung, atau dipecat secara halus dengan iming-iming berwirausaha,” tukas Jajang.(fy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here