Beranda Olah Raga Belajar Wasathiyah Ala Imam Nahrawi

Belajar Wasathiyah Ala Imam Nahrawi

152
0
BERBAGI
alterntif text

Oleh: Andi Fajar Asti

Wasathiyah yang berarti Islam moderat juga menyimbolkan kesederhanaan atau proporsional. Kata ini akan menjadi pasif jika tidak terimplementasi dalam sikap dan tingkah laku. Tentu juga hanya akan menjadi pomeo, yaitu tidak memberi manfaat jika berhenti dalam lantunan kata-kata saja.

Mungkin juga wasathiyah akan menjadi “hoax” jika yang mengajak wasathiyah justru berada dalam kehidupan dan pergaulan yang super ekslusif. Karena pada dasarnya wasathiyah itu sedikitpun tidak mengenal ekslusif apalagi super ekslusif.

Sikap wasathiyah sejatinya dimulai dari pemimpin yang kemudian diteladani umat yang lain. Perilaku inilah yang ditunjukkan seorang menteri pemuda dan olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Imam Nahrawi.

Kesederhanaan Imam Nahrawi ditunjukkan diberbagai kegiatan, meskipun hanya dalam momentum nonton bareng final liga champion tadi malam di halaman kantor kemenpora.

Mas Imam sapaan hormatku, kelihatan berbaur dengan ribuan penonton tanpa pengawalan ketat sebagaimana biasanya dilakukan bagi pejabat sekelas menteri.

Bahkan yang menjadi perhatian menarik adalah saat mas Imam memenuhi permintaan puluhan pemuda difable yang mengajak berfoto dan berbincang dengan bahasa isyarat.

Mas Imam juga memberi mereka kesempatan tampil menjadi dirigen saat ribuan penonton menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suasana malam tadi sangat bersahabat. Sesekali mas Imam mengunjungi para koordinator fans Real Madrid dan fans Liverpool sekedar ajak berfoto dan bertukar jersey.

Akhirnya pluit kick off dibunyikan wasit, mas Imam duduk melantai tepat di depan layar digital yang sudah disiapkan panitia. Tanpa pengawalan dari aparat dan jauh dari birokrasi pada umumnya, dimana tidak satupun terlihat dikawal pejabat kemenpora.

Saya melihat pesan yang tersampaikan kepada seluruh anak muda pecinta bola malam itu bahwa “saya ini adalah menteri milik pemuda Indonesia yang egaliter. Siap menerima keluhan dari lapisan anak muda kapan dan dimanapun”.

Keriuhan penonton justru sekali- kali lahir dari selebrasi mas Imam sebagai ekspresi saat Real Madrid mencetak goal. Mengapa terlihat selebrasi? Karena ternyata ia juga pecinta Madrid alias madridista. Kualitas madridista mas Imam juga di tunjukkan dengan menonton hingga pertandingan selesai, dengan mengenakan jaket Real Madrid.

Meskipun Madridista, beliau tetap menyemangati dan “respect” terhadap Liverpool untuk banyak belajar serta mendoakan Muhamed Salah agar cepat pulih dari cidera bahu akibat benturan “back” Real Madrid, Sergio Ramos. Hal Ini disampaikan sesaat setelah wasit meniup pluit panjang sekaligus sebagai tanda penutup acara nonton bareng.

Akhirnya acara bubar dengan tertib dan riang gembira untuk kemenangan Real Madrid 3 – 1 atas Liverpool, sekaligus rekor dunia club yang mampu hattrick gelar liga champion dalam kurun waktu 3 tahun berturut-turut.

Mas Imam meninggalkan lokasi acara tepat bersamaan masuk waktu sahur. Satu hal lagi yang menarik adalah mobil yang dipakai mas imam dan menjadi kendaraan operasional sehari-hari menteri adalah T*y*ta Inn*va.

Belum pernah menyaksikan kendaraan sekelas menteri dengan jenis T*y*ta Inn*va. Tentu semua yang ditunjukkan mas Imam adalah bagian dari pengewajantahan hidup wasathiyah dalam arti kesederhanaan dan proporsional.

Bahwa anak muda tidak perlu tampil terlalu berlebih-lebihan dengan melampaui batas kemampuannya. Dan juga menjadi pejabat negara sebaiknya menjadikan jabatan adalah amanah rakyat yang harus dinikmati oleh rakyat secara adil dan bertanggung jawab.

Penulis adalah Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (HMPI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here