Beranda Ekonomi APBI Berharap Tahun Depan Target Penjualan Batu Bara Bisa Kembali Menggeliat

APBI Berharap Tahun Depan Target Penjualan Batu Bara Bisa Kembali Menggeliat

0
BERBAGI

Jakarta, Radarkotanews.com – Pemerintah perlu menata ulang berbagai kebijakan yang bersentuhan langsung dengan pertambangan.

Menanggapi lesunya bisnis pertambangan belakangan ini, pengamat lingkungan sekaligus akademisi dari Universitas Indonesia Bob Ranggilawe mengatakan Pemerintah harus mencari solusi untuk menghidupkan kembali bisnis tersebut, diantaranya dengan melakukan penataan ulang regulasi (regulation adjustment) supaya tidak saling tumpang tindih.

Perbaikan regulasi itu juga untuk mengurai Perda-perda yang selama ini tumpang-tindih.

Selain itu, kebijakan yang satu atap (one policy) juga juga harus diupayakan, mengingat banyak Perda yang perlu dibatalkan, antara lain izin pertambangan di daerah dan transparansi.

Sementara itu berdasar pengakuan langsung pelaku bisnis tambang bara, Hendra Sinadia menyatakan bahwa peran batubara sebagai bagian dari ketahanan energi nasional memerlukan dukungan dari Pemerintah dan masyarakat.

Dalam diskusi publik bertema : “Menata Karut Marut Pertambangan Kita” di gedung Dewan Pers, Jakarta, Selasa (22/12/2015) pengurus Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia mengatakan bahwa 70% skala industri batubara cukup besar masuk kedalam penerimaan negara.

Pasokan batubara 60% digunakan untuk kelistrikan nasional. Namun bisnis industri pertambangan batubara hampir sama dengan migas dan kelapa sawit yang mengalami fluktuasi harga. Dan untuk saat ini harga jual batubara menurut Hendra terus merosot tajam hingga mencapai 17% dari harga semula, akibat pasokan yang terlalu besar dan berkurangnya permintaan.

Karena itu pula pihaknya berharap ada intensif dan kemudahan izin yang mungkin bisa diberikan oleh pemerintah kepada para pelaku usaha tambang batubara. Mengingat turunnya harga jual batubara mempengaruhi angka pertumbuhan ekonomi masyarakat di tempat-tempat produksi batubara, seperti Sumatra yang masih 3%, dan -3% untuk Kalimantan, baru-baru ini.

Karena itu APBI berharap tahun depan target penjualan batu bara bisa kembali menggeliat. Meskipun China  mengurangi impor migas dari Indonesia, namun permintaan untuk memasok batubara sebagai bahan bakar utama kelistrikan, Indonesia tetap mengirimnya. Begitupun dengan permintaan dari India dan Jepang.

Untuk target pemasaran dalam negeri sendiri (kebutuhan domestik), APBI membidik target proyek investor pembangunan pembangkit listrik 35 ribu MW dan industri lokal lainnya.
“Kami berharap ada kemudahan regulasi dalam proses eksplorasi tambang yang umumnya berada diatas lahan hutan adat didaerah-daerah”, ungkap Hendra. (SA).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here