Beranda Hukum AGRA Kecam Penculikan Petani Pangalengan Oleh Aparat  

AGRA Kecam Penculikan Petani Pangalengan Oleh Aparat  

0
BERBAGI

 

RadarKotaNews – Pimpinan pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (PP-AGRA) mengutuk dan mengecam penculikan terhadap Sutarman, yang terjadi pada 9 Februari 2019. Penangkapan terjadi pukul 23:41 WIB dikediaman Bung Tarman oleh sekitar 7 orang berpakaian preman, yang mengaku sebagai anggota Kepolisian Resort Bandung, Jawa Barat yang kemudian disusul oleh belasan orang lainnya dengan bersenjata laras panjang. Mereka memasuki Rumah Bung Tarman secara paksa, dengan mencongkel kunci pintu belakang.

Hal tersebut di sampaikan Ketua umum Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Rahmat, dalam pesan tertulisnya kepada awak media di Jakarta, Minggu (10/2/19).

Lanjut dia, Sutarman merupakan salah satu pimpinan (Ketua) AGRA anak cabang Pangalengan, Bandung, Jawa Barat yang selama ini gigih memperjuangkan hak atas tanah Sampalan bagi ribuan keluarga tani di Pangalengan, yakni tanah yang terus berusaha dirampas kembali oleh perusahaan pertanian, PT. Agro Jabar. Orang yang mengaku anggota kepolisian tersebut, dipimpin oleh seorang yang mengaku bernama Edi, Ia sekaligus sebagai juru bicara dan mengaku mendapatkan perintah penangkapan terhdap Sutarman dengan alasan, “terkait dengan kejadian penganiayaan terhadap Ujang Sumpena, pada 13 Juli 2017”. Namun ketika diminta Surat perintah penangkapan, Orang tersebut tidak dapat menunjukkan. Keterangan terkait Penganiayaan Ujang Sumpena, pengurus POKJA,

Orang yang mengaku anggota kepolisian tersebut tetap membawa paksa Sutarman, Mereka mengancam Bung Tarman dan keluarga, bahwa “apabila Bung Tarman tidak mau ikut, maka akan terjadi tindak kekerasan”. Hingga  minggu pagi, pihak keluarga belum mendapat surat apapun dari pihak kepolosian atas dibawanya Sutarman oleh orang yang mengaku anggota polisi tersebut.

Karna itu, Rahmat mengutuk keras tindakan aparat kepolisian yang membawa Sutarman!. Ia menyebut tindakan tersebut tidak lagi dapat dikatakan sebagai penangkapan, tapi justeru merupakan tindakan penculikan.

Rahamat menilai, tindakan yang dilakukan oleh aparat terhadap Bung Tarman, adalah tindakan kesewenang-wenangan aparat yang seharusnya sebagai penegak hukum. Terlebih lagi, mereka (aparat kepolisian) tidak membawa surat perintah ataupun surat keterangan apapun, dan peristiwa pemukulan terhadap Ujang Sumpena-pun sudah berlansung lama, sudah hampir 2 (dua) tahun berlalu, karena saat itu petani marah kepada Ujang Sumpena yang merupakan pengurus Kelompok Kerja (Pokja) yang dibentuk oleh PT. Agro Jabar bersama Kepala Desa Margamekar,  jelas Rahmat.

Rahmat menambahkan bahwa, cara-cara seperti ini bukan pertama kalinya terjadi terhadap kaum tani yang melakukan perjuangan hak atas tanah. Kaum tani, suku bangsa minoritas dan rakyat luas disektor lainnya diberbagai daerah, terus menghadapai ancaman dan berbagai bentuk intimidasi ketika konsisten melakukan perjuangan merebut dan mempertahankan haknya atas tanah dan hak-hak demokratis lainnya.

“Ribuan kaum tani dan sukubangsa minoritas telah ditangkap, dipenjara dan dikriminalisasikan, bahkan ada juga yang telah dibunuh. Tindakan seperti ini merupakan cara utama bagi Pemerintah Indonesia untuk berusaha meredam dan menghentikan perjuangan kaum tani dan rakyat secara luas.”kata Rahmat.

Selain itu Rahmat juga menyebut bahwa di Era kekuasaan Jokowi, tindakan serupa terus terjadi semakin massif, sejalan dengan berbagai program ilusif Jokowi yang dikenal “Nawacita” disertai dengan 16 (enam belas) paket kebijakan ekonomi, dan sangat bergantung pada capital dan teknologi asing. Terlebih lagi, sejak tahun pertama pemerintahannya, terus berusaha memaksakan pelaksanaan program Reforma Agraria palsu dan perhutanan sosial-nya (RAPS) yang sekaligus menjadi ancaman langsung bagi kaum tani, suku bangsa minoritas dan masyarakat luas pedesaan untuk kehilangan tanah dan terjadinya penggusuran.

“Beberapa waktu lalu, 2 (dua) orang petani di dusun Jurang Koak, desa Bebidas kecamatan Wanasaba, Lombok Timur juga mengalami hal serupa, ditangkap dan dibawa paksa dari gubuknya yang berada diatas lahan yang mereka pertahankan dari upaya perampasan oleh Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).”ungkap Rahmat.

Berdasarkan hal tersbeut, AGRA mendesak agar Sutarman segera dibebaskan dan menuntut pemerintah untuk menghentikan segala bentuk kriminalisasi terhadap kaum tani dan rakyat yang berupaya memperjuangkan haknya atas tanah.(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here